Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Sunday, 20 September 2015

Peserta sedang antusias mengikuti materi pada
Sabtu (19/9/2015) kemarin.
Kudus- Sebanyak 150 anggota baru PMII Rayon Tarbiah Komisariat Sunan Kudus (Stain) minggu (20/9/2015) dini hari tadi dibaiat. Pembaiatan dilakukan oleh Ketua PC PMII Kudus Malik Khairul Anam di Taman Budaya, Bae, Kudus.
Anam menuturkan, pembaiatan atau pengambilan sumpah ini adalah prosesi sakral dimana calon anggota PMII mengucapkan janji untuk selalu menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia, berpegang teguh nilai-nilai Pancasila dan Islam Ahlusunnah Waljama'ah, serta patuh dan taat kepada produk hukum dan pimpinan organisasi.
"proses pembaiatan sudah diatur dalam peraturan organisasi PMII, dan ini juga untuk menciptakan kader selalu loyal". Tambahnya.
Kegiatan masa penerimaan anggota baru (Mapaba) dilakukan selama tiga hari, Jumat sampai Minggu (18-20/9) dimana peserta seluruhnya dari jurusan Tarbiah Stain Kudus.
"peserta Mapaba kali ini sekitar 150. Kebanyakan didominasi perempuan.". Tutur Abu, Ketua rayon Tarbiah.
Dia menjelaskan, selain materi PMII peserta juga dibekali tentang materi kebangsaan dan ke-Islaman. Selanjutnya, setelah selesai panitia mengagendakan rencana tindak lanjut (RTL) supaya ilmu yang diberikan ketika Mapaba benar-benar dapat dipahami dan diamalkan betul oleh peserta.
"semoga peserta Mapaba dapat menjadi kader Ulul Albab". Tambahnya.
Sementara itu di rayon yang lain, Mapaba akan laksanakan pada awal bulan Oktober. Seperti Rayon Dakwah-Usuluddin. Rayon yang terdiri dari dua jurusan ini rencananya akan mengadakan Mapaba tanggal 9-11 Oktober 2015. Selanjutnya, Rayon Syariah tanggal 2-4 Oktober 2015.
Shelly Gazela, Ketua Rayon Dakwah-Usuluddin menuturkan Mapaba Rayon Dakwah-Usuluddin diawal bulan oktober karna mengingat akhir bulan September Idul A'dha.
"Alhmdulillah sudah banyak yang daftar. Semoga nanti berjalan dengan baik". Tutur mahasiswa semester 5 yang mengambil Jurusan dakwah tersebut. (prastyo/jendela)

Thursday, 17 September 2015

Pertarungan persahabatan antara PMII Komisariat Sunan Muria UMK dan Komisariat Sunan Kudus Stain kemarin selasa (15/9/2015) di Markas Futsal, Kudus.











Para peserta Sekolah Gender Islam sedang berfoto besama
Kudus- Puluhan perwakilan Korps PMII Putri (Kopri) dari berbagai kabupaten se-jawa tengah kemarin jumat-minggu (11-13/9/2015) mengikuti sekolah gender islam di Hotel Graha Muria Colo, Kudus. Pelatihan yang bertajuk perempuan dalam lembaran kitab kuning sepenuhnya diikuti oleh kader perempuan.
Riska Susilowati, Ketua Kopri PMII Kudus menuturkan kegiatan ini sebenarnya boleh diikuti laki-laki asalkan dia sudah Mapaba. Namun termaindset kegiatan yang diadakan Kopri hanya untuk perempuan.
“laki-laki boleh ikut. Kan kita bicara soal gender”. Tambanya.
Riska yang juga lulusan Psikologi UMK menjelaskan pelatihan ini fokus pada pembahasan keadilan gender perspektif Islam. Karna peserta perlu diajak memahami betul akan peran perempuan dalam kajian Islam terlebih meluruskan dalil-dalil yang selama ini bias gender karna faktor sosio-politik pada masa itu.
Dalam sambutannya, Malikha Dewi Pembina Kopri PMII Kudus mengungkapkan, berbicara gender buka semata-mata buah apel yang dibelah menjadi dua, yang satu untuk laki-laki dan satunya untuk perempuan. Namun lebih bagaimana membicarakan kesepakatan dan penghormatan.
“tidak mungkin saya makan seperti laki-laki. Pasti akan muntah. Lewat forum inilah gender jangan lagi bias”. Tambah Malikha yang juga dosen Stain Kudus.
Forum
Forum yang berjalan selama tiga hari ini fokus pada diskursus gender. Bagaimana peserta dipahamkan betul akan makna gender. Kurikulum sekolah gender islam tertuliskan ada beberapa materi yang diterima oleh peserta, diantaranya: konsep gender dalam Islam, gender perspektif Al-Qur’an dan Hadits, fiqh perspektif perempuan dan hukum Islam di Indonesia.
Riska menambahkan, pemateri yang dipilih sesuai dengan klasifikasi dan disiplin keilmuannya. Jadi memang kita serius dalam menjalankan pelatihan ini.
“semoga lewat pemahaman gender yang tidak bias. Perempuan dan laki-laki dapat saling menghormati terlebih bersama-sama memajukan masyarakat yang adil gender”. Tambahnya. (prastyo/jendela)