Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Friday, 29 May 2009

Peringatan May Day dirayakan para buruh di Kudus dengan sangat meriah. Peringatan kali ini diperingati pada tanggal 1 Mei 2009 di depan pendopo kabupaten kudus, atau tepatnya di alun-alun Kudus. Peringatan kali ini diikuti oleh sekitar enam ratus lebih, yang terdiri dari buruh perusahaan rokok di Kudus(Buruh Rokok Jambu Bol), elemen kemahasiswaan(PMII Kudus, LMND, BEM STAIN Kudus), LSM (PRD, YAPHI, FSBDSI) dan masyarakat Kudus. Dengan pengawalan yang sangat ketat oleh pihak kepolisian kabupaten Kudus, acara peringatan berjalan dengan sangat meriah tidak ada kericuhan yang terjadi. Pada acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, masing masing elemen melakukan orasi di atas mobil yang telah disediakan oleh FSBDSI, salah satu organisasi sarikat buruh di Kudus yang sangat konsen terhadap nasib buruh rokok di Kudus, terutama buruh rokok Jambu Bol yang telah mengalami permasalahan PHK.

Suwoko, Ketua Umum PMII Cabang Kudus sedang berorasi ditengah-tengah ratusan masa.

Acara yang digagas oleh elemen mahasiswa dan LSM ini begitu banyak menyedot perhatian masyarakat di Kudus. Acara bertambah meriah saat teter GERAK 11, salah satu Badan Otonom PMII Cabang Kudus hadir di tengah-tengah kerumunan masa dengan melakukan aksi teatrikal. Ada yang berperan sebagai bos, ada pula yang berperan sebagai buruh yang sangat menderita disimbolkan dengan beberapa pemeran yang memikul replika sebatang rokok yang sangat besar. Ratusan masa yang hadir sangat berkesan dengan penampilan mereka yang kebanyakan ibu-ibu yang sehari-hari sebagai buruh batil di perusahaan rokok.

Ratusan ibu-ibu, Mayoritas buruh rokok di Kudus

Isu yang diangkat dalam peringatan May Day kali ini adalah kesejahteraan buruh yang belum terselesaikan, buruh kontrak dan dana bagi hasil cukai (DBHCHT) yang akan diterima pemerintah kabupaten Kudus yang tahu ini akan diterima dari pemerintah pusat. Tentu proses pengawalan terhadap kesejahteraan buruh ini tidak akan pernah usai, jika pihak peusahaan dan pemerintah tidak bersama-sama mempunyai kepekaan terhadap penderitaan buruh di Kudus. Sebagai pahlawan devisa, selayaknya mereka dapat merasakan kesejahteraan atas keringatmereka sendiri.

Sunday, 10 May 2009

Penulis: M. Mustafidz, S.Fil.
Sekarang Tinggal di Sleman

Kaum muda atau generasi muda memiliki peran penting dalam sejarah negeri ini. Para sejarawan mengatakan bahwa tidak ada perubahan besat di negeri ini yang tidak melibatkan kaum muda. Bahkan, dalam banyak momentum, peran kaum muda sangat sentral. Kita dapat melihat bagaimana peran kaum muda dalam reformasi. Reformasi yang membuka krans liberalisasi politik dan demokratisasi nyaris mustahil tanpa peran kaum muda yang saat itu diperankan kalangan mahasiswa. Jika sedikit flash-back, kita dapat menyaksikan bagaimana peran kaum muda sebagai katalisator proklamasi kemerdekaan. Ben Anderson mengabadikan peran penting pemuda dalam sejarah dalam buku monumentalnya, Revolusi Pemuda.
Dengan melihat heroisme peran pemuda tersebut, menjadi penting bagaimana melakukan kontekstualisasi di tengah krisis global dan transisi demokrasi di lecel nasional. Sebagaimana mutiara hikmah mengatakan bahwa yesterday as memory, today is a gift, and tomorrow is a hope, yang terpenting saat ini adalah bagaimana memproyeksikan peran ke depan tanpa harus meninggalkan masa lalu. Tulisan ini mencoba membangun gagasan sektor yang harus digeluti kaum muda, yakni wilayah ekonomi (economic domain), sesuatu yang selama ini nyaris dilupakan. Untuk mengoptimalkan potensi ekonomi kaum muda sekaligus sebagai basis pengembangan ekonomi diperlukan keterlibatan banyak pihak.
Selama ini perhatian terhadap generasi memang sudah diberikan oleh pemerintah. Organisasi kepemudaan seperti KNPI atau orga ekstra cukup diberi ruang dan fasilitas oleh negara dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinannya. Ini merupakan perkembangan positif terhadap masa depan bangsa. Sebab bagaimanapun masa depan bangsa ini terkait dengan kualitas kaum mudanya. Jika kapasitas kepemimpinan kaum muda cukup memadai, maka masa depan bangsa akan cerah dan prospektif. Sebaliknya, jika lemah, maka masa depan bangsa juga di ambang kehancuran. Meskipun dalam banyak hal bantuan pemerintah seringkali menciptakan dilema, yakni kaum muda terjebak koorporatisme kekuasaan yang menumpulkan kritisisme sosial.
Hanya saja ada satu hal yang dilupakan dalam pengembangan kaum muda. Yaitu mengkaitkan kaum muda dengan pembangunan ekonomi. Konsep kaum muda dalam pembangunan ekonomi memiliki dua dimensi pokok, yakni potensi ekonomi kepemudanaan itu sendiri dan positioning kaum muda sebagai basis pengembangan ekonomi. Kaum muda belum sepenuhnya menjadi stake-holder utama desain pengembangan ekonomi. Ini terlihat dari minimnya partisipasi pemuda dalam politik anggaran, politik industrialisasi, perumusan kebijakan publik, hingga pendidikan.

Posisi Strategis Kaum Muda
Penulis melihat bahwa salah satu hal penting yang harus didorong untuk memberdayakan kaum muda adalah pengembangan di sektor ekonomi. Pengembangan ekonomi kepemudaan merupakan salah satu alternatif program yang harus didorong, di samping pengembangan kapasitas leadership kaum muda. Ada beberapa alasan mengapa ini penting.
Pertama, potensi kaum muda di Kabupaten kudus yang begitu besar. Data BPS tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah pemuda usia 15-24 tahun mencapai sekitar .... jiwa. Jika batasan kaum muda diperluas, yakni mereka yang juga berusia sama dan atau di bawah 29 tahuan, maka jumlahnya menjadi sekitar ..... jiwa. Sebuah jumlah yang amat potensial untuk diberdayakan dan diaktualisasikan segenap potensi ekonominya. Bahkan jika pun mereka diposisikan dan dipandang semata sebagai pasar, potensinya sudah bisa dihitung secara matematik.
Kedua, krisis global yang berawal dari kisruh kredit perumahan di Amerika yang dikenal dengan sitilah sub-prime morgage. Krisis ini, karena sistem ekonomi dunia sudah terintegrasikan sedemikina rupa, juga memiliki dampak signifikan terhadap beberapa negara termasuk Indonesia. Konsekuensi krisis ini dapat dilihat dari fenomena PHK massal yang terjadi di berbagai sektor ekonomi. Kawasan industri Kabupaten kudus termasuk wilayah yang juga mengalami fenomena serupa. Krisis ini merupakan momentum untuk merekonstruksi pembangunan ekonomi nasional dan lokal dan meletakkan pemuda sebagai stake-holder utama.
Ketiga, adanya konteks global yang menunjukkan semakin tak terelakkannya globalisasi ekonomi. Salah satu ciri dari fenomena ini adalah meningkatnya derajat pergerakan orang dalam rangka memburu pekerjaan. Sebagian besar arus ini diisi oleh pencari kerja berusia muda. Artinya, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, kaum muda kita akan berhadapan dengan kaum muda dari kawasan dunia lainnya dalam persaingan mencari kerja.Dalam situasi demikian, kaum muda yang terdidik, dan dibekali skill yang memadai, akan memenangkan persaingan di pasar bebas. Di sinilah dibutuhkan perhatian khusus dalam menyiapkan kaum muda di kancah ekonomi global.
Keempat, salah satu fenomena perkembangan ekonomi adalah dinamika yang luar biasa dalam sektor industri kreatif. Sebuah industri yang digerakkan oleh ide-ide kreatif atau kreativitas. Pelaku sektor ekonomi ini adalah sebagian besar kaum muda.Industri ini bergerak dalam arus budaya kaum muda yang disebut dengan popular culture. Pusaran ekonomi bidang ini nyaris tidak terbatas karena permintaannya bukan berdasarkan kebutuhan, akan tetapi hasrat mengkonsumsi (how to consume) yang secara sistematik dibentuk oleh trend global yang sedang berkembang. Ruang ini merupakan peluang diaspora bagi kaum muda yang enggan masuk sektor birokrasi.
Kelima, pengembangan ekonomi kaum muda merupakan bagian dari grand-design masa depan bangsa. Disain yang tidak menjadikan kaum muda sebagai komponen utama niscaya akan membahayakan masa depan bangsa dan menghasilkan generasi muda yang gagap di tengah dunia yang berubah begitu cepat ini. Pemerintah sudah barang tentu memiliki perencanaan ekonomi ke depan, dan setiap perencanaan selalu membutuhkan sumber daya manusia. Dalam konteks inilah diperlukan rekayasa sosial yang mampu menyedikan kebutuhan sumber daya manusia sekaligus mengisi peluang-peluang yang dibutuhkan di masa depan.

Bagaimana Mengembangkannya?
Pengembangan ekonomi berbasis kaum muda harus memperhatikan beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah potensi ekonomi lokal. Potensi ini harus dimaknai secara luas, tidak semata-mata potensi sumber daya alam yang dimiliki olehkabupaten kudus. Akan tetapi, potensi yang tercipta oleh konteks geoekonomi dan geopolitik kabupaten kudus yang menjadikannya sebagai salah satu kawasan investasi penting di masa depan. Kegagalan dalam membaca situasi ini berdampak pada pembuatan kebijakan ekonomi yang tidak kompatibel.
Dimensi kedua adalah karakteristik demografis kaum mudakabupaten kudus yang terkait dengan tingkat pendidikan, multikulturalisme, dan bangun sosiologis kaum mudakabupaten kudus yang terbentuk oleh berbagai nilai sosial yang berkembang di masyarakat. Pemahaman yang memadai mengenai karakteristik demografis kaum muda niscaya akan berimplikasi pada paradigma pendidikan, pembangunan ekonomi, dan kebijakan pelayanan publik.
Dimensi ketiga, dinamika ekonomi global dan future trends ekonomi dunia. Seperti diungkap di atas, globalisasi telah menjadikan kita hidup di desa buana (global-village). Hal ini menyebabkan trend ekonomi lokal dan nasional tidak terlepas dari dinamika dunia. Karenanya, dibutuhkan sebuah bacaan tajam tentang berbagai kemungkinan-kemungkinan strategis yang akan terjadi di masa depan. Inilah yang harus diantisipasi oleh kaum muda dan pengambil kebijakan.

Jangka Pendek-Panjang
Berbagai pemikiran di atas tentu membutuhkan implementasi dan rumusan yang lebih konkret. Secara sederhana, tulisan ini hanya akan mengupas secara selintas apa yang harus dilakukan berdasarkan kategori waktu, jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek lebih merupakan troubles-shooting, bagaimana merespons situasi ekonomi dalam jangka pendek. Dalam jangka pendek ini terkait dengan dua hal utama. Pertama, lahirnya kaum muda yang sedang mencari pekerjaan setelah lulus dari pendidikan formal, yang tidak terserap di lapangan tenaga kerja. Kedua, merumuskan skema ekonomi sosial dampak krisis global terutama terkait dengan pemutusan hubungan kerja.
Program-program pelatihan enterpreneurship, penciptaaan pembangunan padat karya, pembangunan infrastruktur publik yang menyedot banyak tenaga kerja menjadi penting dalam jangka pendek. Sudah barang tentu pendekatan struktural untuk melindungi masyarakat dalam hubungan industrial tidak kalah pentingnya.
Sementara itu dalam jangka panjang dibutuhkan pendekatan multilevel. Pertama, penguatan kapasitas pendidikan melalui pendidikan. Pendidikan dengan demikian menjadi salah satu instrumen strategis. Pengembangan pendidikan harus didasarkan oleh dua variabel yakni potensi sumber daya alam dan bangun demografis kaum mudakabupaten kudus. Universitas idealnya dikembangkan untuk menghasilkan SDM yang dibutuhkan dalam pengembangan kemaritiman dan potensi sumber daya alam seperti tourisme religius, induustrialisme, dan sektor-sektor industri turunannya, sehingga potensi sumber daya kaum muda kabupaten kudus terserap dalam dunia kerja. Dari sisi potensi dan minat kaum muda sendiri dibutuhkan pendidikan yang memfasilitasi lahirnya para pemikir besar makro-strategis, praktisi, dan juga keterampilan untuk masuk dunia kerja langsung. Dalam jangka panjang, jika pemerintah tidak serius menangani program pendidikan, kaum muda Kudus akan tetap lebih banyak menjadi penonton ketimbang aktor sejarah.
Kedua, disain kebijakan pembangunan harus di-create untuk memberdayakan kaum muda. Intervensi kekuasaan di sini dibutuhkan untuk mengarahkan arah pembangunan yang berpihak pada kaum mudakabupaten kudus. Gagasan ini bukanlah dalam rangka kebencian atau restriksi terhadap pendatang. Sepenuhnya disadari bahwakabupaten kudus merupakan kawasan terbuka yang harus tunduk pada mekanisme pasar dan kebijakan pemerintah. Namun, semata-mata bentuk responsibilitas terhadap kaum muda kabupaten kudus.
Ketiga, dalam jangka panjang dibutuhkan transformasi industri dari industri berbasis manufaktur (packaging) ke industri real baik itu yang dibutuhkan dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam maupun posisi geostrategisnya. Gagasan ini bisa diterjemahkan dalam bentuk bagaimana mentransformasikan kaum muda dari posisi employee saat ini menjadi investor, atau minimal small-business-owner.
Keempat, pemerintah harus mendorong gerak ganda secara bersamaan. Gerak ganda yang dimaksud adalah bagaimana membuka akses terhadap pasar global di satu sisi dan mengambil langkah-langkah kebijakan untuk melindungi industri lokal dari dampak negatif kapitalisme global.Gagasan ini juga bukanlah anjuran proteksionisme terselubung yang menabrak kaidah-kaidah pasar terbuka atau zona perdagangan bebas, namun pemerintah masih dapat berbuat banyak untuk melakukan kedua hal tersebut.
Dengan langkah-langkah tersebut, dalam jangka panjang kaum muda kabupaten kudus akan menemukan elan vitalnya dan memberikan kontribusi siginifikan bagi terwujudnya masyarakatkabupaten kudus yang sejehatera, bermartabat, dan religius..