Puncak 29 adalah nama lain dari puncak Saptorenggo dimana salah
satu puncak tertinggi dari 5 puncak yang terdapat di gunung Muria, Kudus.
Ketinggiannya mencapai 1.602 mdpl. Puncak ini termasuk dalam wilayah administratif Desa Rahtawu,
Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.
 |
| Gapuro masuk desa Rahtawu |
Sabtu kemarin (23/5) pukul 20.30 saya berserta 13 sahabat
PMII berangkat menuju puncak 29. Kami mengambil jalur pendakian lewat desa
Semliro Rahtawu. Malam itu terlihat bintang dan bulan bersinar menandakan cuaca
cerah dan perjalanan kami diprediksi akan lancar.
Berbekal motor, kami meluncur ke pos pertama di desa Rahtawu.
Sepanjang perjalanan kami di suguhkan pemandangan khas suasana desa yang serba menenangkan.
Sampailah kita di track motor terakhir. dengan
merogoh kocek Rp. 5000,-/Motor, kita menipkan motor kepada warga yang memang
sudah terbiasa melayani jasa parkiran.
Sebelum mendaki, semua perlengkapan di cek
ulang begitu juga dengan kondisi perut. Tidak luput gula jawa harus mereka
makan karna untuk menjaga kondisi supaya prima. Tidak pula memberitahukan
pantangan yang tidak boleh di lakukan, salah satunya menyebutkan tokoh
pewayangan.
Pukul 22.45 perjalanan kita mulai. Kita harus
membayar kas desa 2000/org. Belum genap 2 meter, rintik
hujan mulai nampak. Prediksi cuaca cerah tidak diiyakan oleh alam. Hanya
berbekal jas hujan 4 buah kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Di sepanjang rintik hujan, kita merasakan betul
indahnya alam. Dari udara yang segar sampai hiburan musik klasik alami.
Seolah-olah para kawanan serangga menyambut kedatangan kita. Terdengar juga
clotehan-clotehan lucu yang memperhangat suasana persahabatan. Sesekali kita break minum air dan meluruskan
otot kaku, karna 11 dari kita adalah pemula.
Kendala mulai datang ketika hujan lebat, berbekal 4 buah jas
hujan kita mengupayakan agar pakaian yang dikenakan tidak basah. Karna setelah
dikonfirmasi, mereka ternyata tidak membawa baju ganti.
Sempat saya memarahi mereka karna sebelumnya mereka bilang perlengkapan
sudah lengkap. Namun kondisi sekarang tidak tepat untuk itu. yang paling
penting mengupayakan bagaimana caranya mereka tetap sehat dan bisa melanjutkan perjalanan.
Mereka sedikit demi sedikit melanjutkan
perjalanan dengan berdempetan dan menaruh jas batman di atas kepala. Kekompakan
harus mereka jaga, jika tidak ingin pakaian yang satu-satunya mereka kenakan
basah kuyup.
 |
| ayo kita buat coffee dan mei... |
Pukul 24.30 sampailah kita di pos ke-2, Bunton.
Suasana sangat senang karna kita sudah disetengah perjalanan. Kita melihat puluhan
orang menduduki pos bunton. Sampai banyaknya kita kebingungan mencari tempat
istirahat.
Ada gubug tua di sebelah WC umum yang mau tidak
mau kita gunakan untuk transit. Karna mereka harus istirahat memulihkan kondisi
dan berteduh dihujan yang lebat.
Dengan alas jas hujan, mereka berdempetan duduk
guna menjaga tubuh supaya hangat. Hasan inspektur rumah tangga dengan sigap
menyiapkan mie dan kopi untuk disantab bersama. Secara bergantian mereka
menyendok mie dan meminum kopi layaknya pengungsi di penampungan. Secara
bergantian pula mereka merebahkan badan untuk meluruskan otot-otot. Kita seperti
layaknya keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Makan satu piring,
ngopi satu gelas, menerjang ganasnya hujan dan bertahan hidup di dinginnya alam
liar. Sesekali clotehan-clotehan tawa mengalihkan letih mereka.
"Hay... Sudah jam 01.30 ayo kita packing dan melanjutkan
perjalanan" tutur Angga.
Kali ini bintang bermunculan menandakan cuaca akan
bersahabat. Namun sayang kali ini Fifi dan Novi tidak bisa melanjutkan
perjalanan karena kondisi badan mereka tidak stabil. Mereka memilih istirahat
di Bunton.
12 orang melanjutkan perjalanan. Dengan berbekal 4 senter mereka membelah
kegelapan malam. Kali ini track yang kita
tempuh lumayan ekstrim. Beberapa track kemiringannya mencapai 80 derajat. Namun
rata-rata keseluruhan track pada posisi 65 derajat. Kondisi tanah pun licin
karna habis di guyur hujan.
Keadaan semakin mencekam, ketika menjumpai
lokasi tempat bertapa. Aroma menyan dan kembang 7 rupa tercium sangat khas. Itu
pertanda ada seseorang yang sedang melakukan ritual. Namun perasaan
merinding diobati dengan indahnya kelap-kelip lampu kota dan bintang. Seakan-akan
mereka sedang bersaing untuk membuktikan yang terbaik.
"Duh... Indahnya". Kata Topo
"Whuuuuussssshhhh....." Dinginnya
puncak mulai terasa.
Kagetnya bukan main, bintang-bintang yang
tadinya terlihat berubah menjadi kumpulan awan hitam tebal. Sempat terucap
hujan akan turun lagi.
Tak sampai 15 menit,
"breeeeeessss...." hujan turun.
"Jas hujan ayo di keluarkan, kita menepi
di di cekungan jalan" pintaku.
Namun topo menjawab, bahwa jasnya ketinggalan
di bunton.
"Waaaaduuuuhh....."
Pas di jalan miring, Hujan deras dan angin kencang. Sungguh
menantang.
"Kalau ada pohon berteduh di pohon. kalau tidak ada
bersembunyi di cekungan. Berkelompok dan cahaya di jaga" kataku kepada
mereka.
Hampir 5 menit kondisi tidak berubah. Namun sedikir demi sedikit hujan mulai
berkurang. Mungkin hujan lewat.
"ayooo hujannya mulai berkurang. kurang
100 meter sampai gapuro puncak" semangatku.
Seketika mereka dengan cepat beranjak dari
persembunyiannya untuk bergegas menuju gapuro puncak.
Pas sampai gapuro, hujan deras lagi.
Hasan, Uri dan topo mencari transit untuk
berteduh. namun semuanya penuh.
"Kang kebak kabeh... (kang penuh
semua)" tutur Uri.
"Waduuhh....."
Sementara kita ada yang berdiri di emper gubug
dan ada juga yang memanfaatkan seng untuk berteduh.
Tak lebih dari 10 menit kita menemukan pawon
warung makan yang bisa di gunakan untuk berteduh.
Karna memang sempit mau tidak mau beristirahat
sambil duduk tanpa alas. kita di kelilingi oleh arang dari tungku kayu, koboan
dan tumpukan gelas dan piring.
"Oh.... nikmatnya"
Pukul 5.00 hujan reda. Kita keluar untuk
menunggu indah mentari. Segala jerih payah kita, bertarung sengan hujan,
berjibaku dengan alam terobati sudah.
"Hasan, Uri, Topo, Adi, Sapri, Rizal,
Rina, Hanif, Musofi, Aav, Angga inilah puncak 29. Perjuangan kita terobati
sudah".
Kita berdiri di lautan awan. Hamparan ombak
menerjang bukit-bukit gunung ditambah sang fajar menambah keagungan ciptaan
tuhan.
“Memang indah lukisan tuhan”. Bisikku.
Bersyukur kenangan manis ini kulampaui dengan sahabatku. Ya,
sahabat PMII. Semoga di kemudian hari kita bisa berkelana menikmati indahnya alam.
Kami berjanji akan menjaga solidaritas ini untuk
jalani hari esok. Inilah janji seorang sahabat. (prastyo)
 |
| Berdiri di atas awan.... kayak Sung Go Kong, hehe |
 |
| Tidak akan pernah lupa. Ngopi duluuuu... |