Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Wednesday, 3 June 2015


Puncak 29 adalah nama lain dari puncak Saptorenggo dimana salah satu puncak tertinggi dari 5 puncak yang terdapat di gunung Muria, Kudus. Ketinggiannya mencapai 1.602 mdpl. Puncak ini termasuk dalam wilayah administratif Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Gapuro masuk desa Rahtawu
Sabtu kemarin (23/5) pukul 20.30 saya berserta 13 sahabat PMII berangkat menuju puncak 29. Kami mengambil jalur pendakian lewat desa Semliro Rahtawu. Malam itu terlihat bintang dan bulan bersinar menandakan cuaca cerah dan perjalanan kami diprediksi akan lancar.
Berbekal motor, kami meluncur ke pos pertama di desa Rahtawu. Sepanjang perjalanan kami di suguhkan pemandangan khas suasana desa yang serba menenangkan.
Sampailah kita di track motor terakhir. dengan merogoh kocek Rp. 5000,-/Motor, kita menipkan motor kepada warga yang memang sudah terbiasa melayani jasa parkiran.
Sebelum mendaki, semua perlengkapan di cek ulang begitu juga dengan kondisi perut. Tidak luput gula jawa harus mereka makan karna untuk menjaga kondisi supaya prima. Tidak pula memberitahukan pantangan yang tidak boleh di lakukan, salah satunya menyebutkan tokoh pewayangan.
Pukul 22.45 perjalanan kita mulai. Kita harus membayar kas desa 2000/org.  Belum genap 2 meter, rintik hujan mulai nampak. Prediksi cuaca cerah tidak diiyakan oleh alam. Hanya berbekal jas hujan 4 buah kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Di sepanjang rintik hujan, kita merasakan betul indahnya alam. Dari udara yang segar sampai hiburan musik klasik alami. Seolah-olah para kawanan serangga menyambut kedatangan kita. Terdengar juga clotehan-clotehan lucu yang memperhangat suasana persahabatan. Sesekali kita break minum air dan meluruskan otot kaku, karna 11 dari kita adalah pemula.
Kendala mulai datang ketika hujan lebat, berbekal 4 buah jas hujan kita mengupayakan agar pakaian yang dikenakan tidak basah. Karna setelah dikonfirmasi, mereka ternyata tidak membawa baju ganti.
Sempat saya memarahi mereka karna sebelumnya mereka bilang perlengkapan sudah lengkap. Namun kondisi sekarang tidak tepat untuk itu. yang paling penting mengupayakan bagaimana caranya mereka tetap sehat dan bisa melanjutkan perjalanan.
Mereka sedikit demi sedikit melanjutkan perjalanan dengan berdempetan dan menaruh jas batman di atas kepala. Kekompakan harus mereka jaga, jika tidak ingin pakaian yang satu-satunya mereka kenakan basah kuyup.
ayo kita buat coffee dan mei...

Pukul 24.30 sampailah kita di pos ke-2, Bunton. Suasana sangat senang karna kita sudah disetengah perjalanan. Kita melihat puluhan orang menduduki pos bunton. Sampai banyaknya kita kebingungan mencari tempat istirahat.
Ada gubug tua di sebelah WC umum yang mau tidak mau kita gunakan untuk transit. Karna mereka harus istirahat memulihkan kondisi dan berteduh dihujan yang lebat.
Dengan alas jas hujan, mereka berdempetan duduk guna menjaga tubuh supaya hangat. Hasan inspektur rumah tangga dengan sigap menyiapkan mie dan kopi untuk disantab bersama. Secara bergantian mereka menyendok mie dan meminum kopi layaknya pengungsi di penampungan. Secara bergantian pula mereka merebahkan badan untuk meluruskan otot-otot. Kita seperti layaknya keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Makan satu piring, ngopi satu gelas, menerjang ganasnya hujan dan bertahan hidup di dinginnya alam liar. Sesekali clotehan-clotehan tawa mengalihkan letih mereka.
"Hay... Sudah jam 01.30 ayo kita packing dan melanjutkan perjalanan" tutur Angga.
Kali ini bintang bermunculan menandakan cuaca akan bersahabat. Namun sayang kali ini Fifi dan Novi tidak bisa melanjutkan perjalanan karena kondisi badan mereka tidak stabil. Mereka memilih istirahat di Bunton.
12 orang melanjutkan perjalanan. Dengan berbekal 4 senter mereka membelah kegelapan malam. Kali ini track yang kita tempuh lumayan ekstrim. Beberapa track kemiringannya mencapai 80 derajat. Namun rata-rata keseluruhan track pada posisi 65 derajat. Kondisi tanah pun licin karna habis di guyur hujan.
Keadaan semakin mencekam, ketika menjumpai lokasi tempat bertapa. Aroma menyan dan kembang 7 rupa tercium sangat khas. Itu pertanda ada seseorang yang sedang melakukan ritual. Namun perasaan merinding diobati dengan indahnya kelap-kelip lampu kota dan bintang. Seakan-akan mereka sedang bersaing untuk membuktikan yang terbaik.
"Duh... Indahnya". Kata Topo
"Whuuuuussssshhhh....." Dinginnya puncak mulai terasa.
Kagetnya bukan main, bintang-bintang yang tadinya terlihat berubah menjadi kumpulan awan hitam tebal. Sempat terucap hujan akan turun lagi.
Tak sampai 15 menit, "breeeeeessss...." hujan turun.
"Jas hujan ayo di keluarkan, kita menepi di di cekungan jalan" pintaku.
Namun topo menjawab, bahwa jasnya ketinggalan di bunton.
"Waaaaduuuuhh....."
Pas di jalan miring, Hujan deras dan angin kencang. Sungguh menantang.
"Kalau ada pohon berteduh di pohon. kalau tidak ada bersembunyi di cekungan. Berkelompok dan cahaya di jaga" kataku kepada mereka.
Hampir 5 menit kondisi tidak berubah. Namun sedikir demi sedikit hujan mulai berkurang. Mungkin hujan lewat.
"ayooo hujannya mulai berkurang. kurang 100 meter sampai gapuro puncak" semangatku.
Seketika mereka dengan cepat beranjak dari persembunyiannya untuk bergegas menuju gapuro puncak.
Pas sampai gapuro, hujan deras lagi.
Hasan, Uri dan topo mencari transit untuk berteduh. namun semuanya penuh.
"Kang kebak kabeh... (kang penuh semua)" tutur Uri.
"Waduuhh....."
Sementara kita ada yang berdiri di emper gubug dan ada juga yang memanfaatkan seng untuk berteduh.
Tak lebih dari 10 menit kita menemukan pawon warung makan yang bisa di gunakan untuk berteduh.
Karna memang sempit mau tidak mau beristirahat sambil duduk tanpa alas. kita di kelilingi oleh arang dari tungku kayu, koboan dan tumpukan gelas dan piring.
"Oh.... nikmatnya"
Pukul 5.00 hujan reda. Kita keluar untuk menunggu indah mentari. Segala jerih payah kita, bertarung sengan hujan, berjibaku dengan alam terobati sudah.
"Hasan, Uri, Topo, Adi, Sapri, Rizal, Rina, Hanif, Musofi, Aav, Angga inilah puncak 29. Perjuangan kita terobati sudah".
Kita berdiri di lautan awan. Hamparan ombak menerjang bukit-bukit gunung ditambah sang fajar menambah keagungan ciptaan tuhan.
“Memang indah lukisan tuhan”. Bisikku.
Bersyukur kenangan manis ini kulampaui dengan sahabatku. Ya, sahabat PMII. Semoga di kemudian hari kita bisa berkelana menikmati indahnya alam. Kami berjanji akan menjaga solidaritas ini untuk jalani hari esok. Inilah janji seorang sahabat. (prastyo)
Berdiri di atas awan.... kayak Sung Go Kong, hehe
Tidak akan pernah lupa. Ngopi duluuuu...
Oh..... sahdunya
1, 2, 3, Smile...... Preeeeet.
Tidak lupa kita menulis pesan untuk orang yang disayangi
Foto bersama di depan gerbang puncak 29
Perempuan tangguh hari ini, (dari kiri) Rina, Hanif, Novi, Fifi
Pukul 10.00 kita turun gunung

Categories:

1 komentar:

Mari Berkarya said...

ayo berangkat lagi mennnnn