| Warga Rt. 05, Rw. 03, Ds. Pedawang sedang menonton film Sang Kiyai |
- Kemeriahan Hut RI ke-70
Kudus-
Suasana terdengar tenang. Puluhan warga masih berkumpul di depan pos kampling
Rt. 05, Rw. 03, ds. Pedawang, Bae, Kudus. Kali ini mereka menikmati film karya
Rako Prijanto Sang Kiyai.
Film yang menceritakan tentang
perjuangan Hadhotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari semasa melawan penjajahan mampu
menghipnotis warga untuk menontonnya sampai akhir. Tak hanya para orang tua,
anak-anak pun tak mau ketinggalan dalam menghayati perjuangan para kiyai yang
menghantarkan kemerdekaan Indonesia.
Darmo ketua Rt menuturkan, film ini
memberikan edukasi kepada warga Rt. 05, Rw. 03 tentang perjuangan para kiyai
dan santri dulu ketika memperjuangan negara kesatuan Republik Indonesia.
“Warga sini harus mengerti tentang
sejarah perjuangan negeri ini. Terutama tentang KH Hasyim As’ari yang juga
tokoh Nahdhotul Ulama”. Tutur Darmo kemarin Minggu (16/8/2015) di sela-sela
acara.
Dia menjelaskan, KH Hasyim As’ary adalah
tokoh yang sangat menginspirasi. Di film tersebut menjelaskan KH Hasyim As’ari
sangat kukuh pendiriannya dalam mempertahankan negeri ini. Terbukti ketika
disiksa oleh tentara jepang. Hadhotus Shaikh tetap pada penderiannya.
“sebelumnya saya berterima kasih kepada
adik-adik PMII yang membuatkan acara ini. Ini sangat mendidik, terutama untuk
generasi muda”. Tambahnya.
Secara terpisah ketua PMII Kudus Malik
Khairul Anam menuturkan, kami sangat senang bisa belajar bersama dengan
masyarakat. Kami menganggap, kami adalah warga Rt 05/Rw. 03. Jadi sudah
sepatutnya ikut meramaikan HUT kemerdekaan Indonesia ke-70.
“sudah sepatutnya kami harus dekat
dengan masyarakat. Karna kami dididik untuk itu”. Tutur Malik Khairul Anam
Anam menjelaskan, pemilihan film Sang
Kiyai bertujuan agar masyarakat mengerti bahwa pejuang dulu bukan hanya tentara
saja, melainkan juga para kiyai dan santri. Di film itupun banyak memperlihatkan
stategi politik KH Hasyim Asy’ari dalam melawan penjajah Jepang. Sampai-sampai
putera beliau KH Wahid Hasim menjadi menteri agama pertama semasa penjajahan
Jepang.
“Para Kiyai dan santri bukan hanya tokoh religuis saja. Mereka juga mampu menjadi negarawan. Tanpa mereka, tak tahu Indonesia kan seperti apa”. Tambahnya (ar)
0 komentar:
Post a Comment