Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Monday, 15 June 2009

Kegiatan Peningkatan Mutu Kader dan Pengembangan Desa Mandiri adalah sebuah gagasan yang dilatar belakangi oleh keresahan sahabat-sahabat pengurus cabang PMII Kudus atas menurunnya gerakan ditengah-tengah kader, baik gerakan kemahaiswaan yang bergerak mengawal isu-isu, maupun gerakan intelektual. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12-14 Juni 2009 di desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus.
Acara dimulai ba'da maghrib dengan acara ceremonial, yakni menyanyikan lagu Indonesia dan Mars PMII, serta Tahlil sebagai ciri khas kader ASWAJA. Selain itu, Suwoko selaku ketua PMII Kudus memberikan sambutan, dan bercerita latar belakang kegiatan kepada para peserta. Dia juga mengungkapkan, bahwa menjadi kader PMII yang militan haruslah ada kata ASWAJA di dalam hatinya, mengembalikan segala sesuatu kepada ASWAJA, bertanya segala hal dalam kehidupan kepada ASWAJA, bukan dengan nalar yang tercampur aduk dan bertolak pada ideologi yang carut-marut.
Pada acara yang dihadiri oleh 17 peserta yang datang dari kader PMII Komisariat Sunan Kudus, PMII Komisariat Sunan Muria dan PMII Komisariat KHR Asnawi, serta beberapa Badan Otonom PMII Kudus ini memang tidak mengundang banyak peserta, hanya mereka yang mempunyai kewenangan terhadap organ dibawah Cabanglah yang diwajibkan untuk mengikuti.
Pada sesi materi pertama, Suwoko selaku ketua PMII Kudus yang bertanggungjawab atas berjalannya kegiatan tersebut menyampaikan materi untuk sesi pertama. Suwoko mengupas secara tuntas tentang Ideologi ASWAJA. Sebagaimana yang telah ia sampaikan disambutan acara pembukaan, dia mengulangi beberapa hal, diantaranya tentang ruang batin yang belum menyatu antara individu kader dengan ruh ASWAJA. Banyak dari kader yang bertindak dan berfikir yang dilandasi bukan atas landasan ASWAJA. Sebagai kader PMII yang berideologi ASWAJA selayaknya para kader menjalankan segala sesuatu atas dasar ASWAJA. Lebih lanjut Suwoko menjelaskan cita-cita PMII, yakni membentuk pribadi muslim yang cakap, bertaqwa, berbudi luhur, bertanggung jawab atas ilmunya dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Didalam cita-cita PMII disebutkan bahwa, sebagai kader PMII dan sekaligus menjadi warga negara Indonesia mereka wajib mewujudkan cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia, artinya bagi kader PMII, NKRI harga mati!
Pada acara tersebut dilaksanakan pula ziyarah wali yang tidak jauh dari lokasi kegiatan, tepatnya 2 km dari lokasi kegiatan ada sebuah makam wali yang masih banyak diziyarahi oleh banyak warga. Wali tersebut bernama Raden Bagus Muknin atau Kanjeng Sunan Prawoto yang masih punya silsilah sebagai pangerak kerajaan Demak Bintoro. Pada malam yang terakhir kegiatan ini, masyarakat berugenjang terutama anak-anak disuguhkan film Laskar Pelangi yang diputar pada sebuah LCD Projektor yang menampilkan gambar berukuran 4x3 m. Saking antusisnya masyarakat sekitar, terutama anak-anak mereka berbondong-bondong memadati halaman tempak kegiatan dilaksanakan.


Kenapa harus Laskar Pelangi? Karena, gagasan pengembangan desa mandiri ini akan dimulai dengan menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat pedesaan akan potensi alam dan sosial yang mereka miliki. Sahabat-sahabat PMII Kudus yakin bahwa film Laskar Pelangi dapat menumbuhkan kesadaran dan cita-cita mereka untuk bisa hidup mandiri, tanpa terpengaruh oleh dampak negatif ekonomi global dan pengaruh kebudayaan-kebudayaan asing dapat merusak citra diri bangsa. Jika disadari, potensi sosial dan potensi ekonomi yang mereka miliki saat ini dapat dikatakan mereka telah hidup dalam kondisi sosial dan ekonomi yang mandiri. Hal ini dapat dilihat dari interaksi sosial dan ekonomi yang mereka jalankan selama ini.
Jika dilihat, masyarakat di desa Berugenjang kecamatan Undaan kabupaten Kudus tanpa sadar telah menjalankan kehidupan mereka secara mandiri dalam sebuah kelompok masyarakat yang lebih sempit, yakni lingkup pedesaan. Di bidang ekonomi, mereka mencukupi kebutuhan pokok mereka dari hasil alam di sekitar mereka yang mereka kelola. Mereka mendapatkan beras dari hasil menanam padi di sawah-sawah sekitar permukiman, mereka mendapatkan sayur-mayur dari hasil menanam sayuran di halamn rumah-rumah mereka atau di pematang sawah-sawah mereka(tumpang sari). Di bidang energi, mereka menggunakan kayu bakar untuk memasak yang mereka dapatkan dari hasil penanam pohon di sekeliling rumah mereka atau tahah kosong yang mereka miliki. Jika dilihat dari interaksi sosial mereka, mereka masih menjalankan kebudayaan dari leluhur sebagai media untuk berinteraksi sosial, seperti contoh nyadran, apitan, sedekah bumi, sambatan dan lain sebagainya.
Dari gagasan awal ini, diharapkan semua pihak melakukan penyadaran terhadap masyarakat pedesaan agar mereka mampu melihat dan menyadari akan potensi yang mereka miliki. Mereka selayaknya mendapatkan pendidikan dan pengarahan agar selalu menjaga potensi yang mereka miliki sehingga kehidupan yang mandiri dapat mereka nikmati hingga waktu yang tak terbatas.


Thursday, 11 June 2009

Setiap malam jum'at, seperti biasanya PMII Cabang Kudus mengadakan sekolah politik yang tujuannya membekali kader Pmii Kudus dengan pengetahuan politik secara luas. Di sesi yang ke dua ini hadir sebagai guru, Fajar Kartika, M.Hum yang saat ini menjadi staf pengajar di Universitas Muria Kudus. Pada pertemuan kedua kali ini dibahas tentang perpolitikan di Indonesia. Senada dengan apa yang dibahas pada pertemuan yang pertama, Sahabat Fajar juga menyampaikan bahwa dalam proses berpolitik di Indonesia melepaskan politik dengan filosofi, artinya dalam menjalankan proses politik masyarakat indonesia hanya memandang politik dari sisi politi saja (ansich). Hal inilah yang menyebabkan arah perpolitikan di Indonesia tidak tentu arahnya. Jika hal ini terus menjadi trend di tengah masyarakat, maka tak heran jika nanti masyarakat kebanyakan akan apolitis, artinya masyarakat akan apatis terhadap perpolitikan di Indonesia, karena [politik yang mereka lihat hanya bertumpu pada tokoh politi semata, yang kita tahu banyak tokoh politik yang amoral. selengkapnya

Friday, 5 June 2009


Sekolah politik sesi pertama telah dilaksanakan tadi malam (4 Juni 2009) di kantor cabang PMII Kudus, jalan kampus UMK gang 6 Dersalam, Bae Kudus. Acara yang berlangsung tiga jam lebih ini dihadiri 10 siswa yang berasal dari penguruh komisarian yang ada dibawah PMII Kudus. Di sesi pertama, sekolah politik ini mengangkat materi tentang pengenalan politik yang mendasar, yakni politik dilihat dari pengertian teksnya, politik dilihat dari konteks dasarnya. Hadir di dalam sesi ini sebagai guru, Kholid Mawardi, seorang aktivis di Kudus yang lama berkecipung di dunia pergerakan.

Kholid menyampaikan, bahwa politik adalah tindakan seseorang untuk mengambil suatu keputusan apapun di dalam kehidupannya. Dia juga mengatakan, bahwa politik lahir dari sebuah philosofi yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Jadi, tidak tepat jika politik dipisahkan dari nilai, norma yang berkembang di masyarakat. Jika politik dipisahkan dari nilai philosofi, maka yang terjadi adalah carut-marutnya proses politik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat di tengah-tengah masyarakat kita di Indonesia. selengkapnya.......

foto 2fpilpres kds-J18
SM/Ruli Aditio
Sara Merdeka-Suara Muria, 3 Juni 2009-hal2

INZET: Suwoko (Ketua PMII Kudus)


MEMASUKI masa pemilihan presiden (pilpres) masyarakat diimbau harus jeli melihat sosok calon pemimpin yang akan mereka pilih. Baik program maupun track recordnya, jadi jangan kepincut dengan iklan yang mereka buat diberbagai media masa.
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, Suwoko kemarin mengatakan tayangan iklan di media masa sangat mengecoh masyarakat dan selalu menipu.
"Penjelasan dalam iklan hanya ada kebaikan mereka, dan tidak mungkin kekurangan mereka ditunjukkan," katanya.
Untuk capres dan cawapres, yang terpenting adalah program ke depan, apa yang akan diberikan kepada rakyat jika mereka terpilih.
selengkapnya..........
Peringatan May Day dirayakan para buruh di Kudus dengan sangat meriah. Peringatan kali ini diperingati pada tanggal 1 Mei 2009 di depan pendopo kabupaten kudus, atau tepatnya di alun-alun Kudus. Peringatan kali ini diikuti oleh sekitar enam ratus lebih, yang terdiri dari buruh perusahaan rokok di Kudus(Buruh Rokok Jambu Bol), elemen kemahasiswaan(PMII Kudus, LMND, BEM STAIN Kudus), LSM (PRD, YAPHI, FSBDSI) dan masyarakat Kudus. Dengan pengawalan yang sangat ketat oleh pihak kepolisian kabupaten Kudus, acara peringatan berjalan dengan sangat meriah tidak ada kericuhan yang terjadi. Pada acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, masing masing elemen melakukan orasi di atas mobil yang telah disediakan oleh FSBDSI, salah satu organisasi sarikat buruh di Kudus yang sangat konsen terhadap nasib buruh rokok di Kudus, terutama buruh rokok Jambu Bol yang telah mengalami permasalahan PHK. selengkapnya.........

Thursday, 4 June 2009


Sekolah politik sesi pertama telah dilaksanakan tadi malam (4 Juni 2009) di kantor cabang PMII Kudus, jalan kampus UMK gang 6 Dersalam, Bae Kudus. Acara yang berlangsung tiga jam lebih ini dihadiri 10 siswa yang berasal dari penguruh komisarian yang ada dibawah PMII Kudus. Di sesi pertama, sekolah politik ini mengangkat materi tentang pengenalan politik yang mendasar, yakni politik dilihat dari pengertian teksnya, politik dilihat dari konteks dasarnya. Hadir di dalam sesi ini sebagai guru, Kholid Mawardi, seorang aktivis di Kudus yang lama berkecipung di dunia pergerakan.

Kholid menyampaikan, bahwa politik adalah tindakan seseorang untuk mengambil suatu keputusan apapun di dalam kehidupannya. Dia juga mengatakan, bahwa politik lahir dari sebuah philosofi yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Jadi, tidak tepat jika politik dipisahkan dari nilai, norma yang berkembang di masyarakat. Jika politik dipisahkan dari nilai philosofi, maka yang terjadi adalah carut-marutnya proses politik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat di tengah-tengah masyarakat kita di Indonesia.

Lebih jauh Dia mengatakan, bahwa di masyarakat Indonesia tidak secara baku menggunakan nilai philosofi dari leluhur yang telah ada dan justru banyak mengadopsi alur politik yang ada di luar masyarakat Indonesia sendiri. Akibatnya proses politik yang berjalan di Indonesia tidak tentu arahnya.

Secara mendasar politik adalah sebuah tindakan dalam memutuskan sesuatu di dalam kehidupan. Jadi, ketika seseorang menganggap bahwa politik itu kejam, tidak selamanya benar. Dan politik menempati peringkat pertama bagi sebuat tata masyarakat, kemudian ekonomi, pendidikan dan seterusnya. Karena sebuah proses dibidang lain selain politik akan sangat dipengaruhi oleh keputusan politik. Dia menyebutkan contoh, bahwa penanaman modal ekonomi, investasi pendidikan, kesehatan pastilah ada undang-undang yang mengaturnya, nah undang-undang sendiri adalah produk dari kebijakan politik. Yang lebih penting untuk dilakukan menurut Dia adalah membuka paradigma politik kita seluas-luasnya. Bahwa selain hitam, tidak selamanya putih, ternyata ada warna lain.


Empat puluh lima menit pemaparan materi, kemudian ada salah seorang siswa bernama Aryo yang juga menjabat Presiden BEM Teknik Universitas Muria Kudus mempertanyakan materi yang telah disamapaikan, menurutnya materi yang disampaikan terlalu sulit untuk dicerna, jadi dia meminta untuk menjelaskan secara detil apa politik itu? Apakah politik itu kekuasaan? Kemudian Kholid menjelaskan, bahwa politik memang harus berorientasi kekuasaan. Namun, jangan ketika telah memperoleh kekuasaan kemudian tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semata-mata politik adalah alat yang harus diraih untuk rakyat.

Acara sekolah politik berakhir pukul 22.30WIB. Dan sekolah sesi yang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2009 di tempat dan jam yang sama dengan menghadirkan guru Fajar Kartika. Seluruh siswa menyatakan penasaran dengan materi yang selanjutnya, menurut mereka sekolah ini sangat penting sebagai teori untuk jalan mereka dan sekaligus sebagai pengetahuan.

Tuesday, 2 June 2009

foto 2fpilpres kds-J18
SM/Ruli Aditio
Sara Merdeka-Suara Muria, 3 Juni 2009-hal2

INZET: Suwoko (Ketua PMII Kudus)


MEMASUKI masa pemilihan presiden (pilpres) masyarakat diimbau harus jeli melihat sosok calon pemimpin yang akan mereka pilih. Baik program maupun track recordnya, jadi jangan kepincut dengan iklan yang mereka buat diberbagai media masa.
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, Suwoko kemarin mengatakan tayangan iklan di media masa sangat mengecoh masyarakat dan selalu menipu.
"Penjelasan dalam iklan hanya ada kebaikan mereka, dan tidak mungkin kekurangan mereka ditunjukkan," katanya.
Untuk capres dan cawapres, yang terpenting adalah program ke depan, apa yang akan diberikan kepada rakyat jika mereka terpilih.
"Boleh saja para calon beradu argumen didepan masyarakat, namun jangan memberikan suguhan drama kepada masyarakat, artinya adu argumen itu jangan saling menyerang lawan dengan kejelekan mereka secara pribadi dan yang diserang merasa di dzolimi sehingga masyarakat iba dan melihat sosok mereka," ujarnya.
Hal ini sudah pernah terjadi pada tahun 2004, manakala SBY merasa dikucilkan di kabinet gotong royong, dan masyarakat iba melihat SBY.
"Calon harus saling serang dengan konsep dan gagasan yang akan mereka bawa ketika mereka terpilih nantinya," katanya.
Mengenai pertarungan wacana ekonomi kerakyatan dan neoliberal (neolib), masyarakat harus lebih jeli lagi. Gagasan ekonomi kerakyatan yang diusung oleh MEGA-PRO dan JK-WIN akhir-akhir ini membuat masyarakat menjadi bingung.
"Mereka hanya menyampaikan jargon, bukan program riil, kalaupun mereka menyampaikan program riil, masyarakat masih harus bertanya, bagaimana cara mereka untuk bisa merealisasikan program dengan kondisi Indonesia sekarang ini," katanya.
Mengenai pembelaan SBY-Boediono bahwa mereka tidak berfaham neolib, masyarakat pun harus lebih jeli lagi, kenapa? karena neolib sendiri multi tafsir.
"Menurut SBY-Boediono, mereka tidak menyerahkan sepenuhnya perekonomian Indonesia kepada mekanisme pasar, padahal kenyataannya esensi dari Ekonomi kerakyatan versus neolib adalah, bagaimana masyarakat dapat membangun perekonomian mereka, sehingga mereka bisa hidup sejahtera," tandasnya. (Ruli Aditio)