Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Thursday, 4 June 2009


Sekolah politik sesi pertama telah dilaksanakan tadi malam (4 Juni 2009) di kantor cabang PMII Kudus, jalan kampus UMK gang 6 Dersalam, Bae Kudus. Acara yang berlangsung tiga jam lebih ini dihadiri 10 siswa yang berasal dari penguruh komisarian yang ada dibawah PMII Kudus. Di sesi pertama, sekolah politik ini mengangkat materi tentang pengenalan politik yang mendasar, yakni politik dilihat dari pengertian teksnya, politik dilihat dari konteks dasarnya. Hadir di dalam sesi ini sebagai guru, Kholid Mawardi, seorang aktivis di Kudus yang lama berkecipung di dunia pergerakan.

Kholid menyampaikan, bahwa politik adalah tindakan seseorang untuk mengambil suatu keputusan apapun di dalam kehidupannya. Dia juga mengatakan, bahwa politik lahir dari sebuah philosofi yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Jadi, tidak tepat jika politik dipisahkan dari nilai, norma yang berkembang di masyarakat. Jika politik dipisahkan dari nilai philosofi, maka yang terjadi adalah carut-marutnya proses politik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat di tengah-tengah masyarakat kita di Indonesia.

Lebih jauh Dia mengatakan, bahwa di masyarakat Indonesia tidak secara baku menggunakan nilai philosofi dari leluhur yang telah ada dan justru banyak mengadopsi alur politik yang ada di luar masyarakat Indonesia sendiri. Akibatnya proses politik yang berjalan di Indonesia tidak tentu arahnya.

Secara mendasar politik adalah sebuah tindakan dalam memutuskan sesuatu di dalam kehidupan. Jadi, ketika seseorang menganggap bahwa politik itu kejam, tidak selamanya benar. Dan politik menempati peringkat pertama bagi sebuat tata masyarakat, kemudian ekonomi, pendidikan dan seterusnya. Karena sebuah proses dibidang lain selain politik akan sangat dipengaruhi oleh keputusan politik. Dia menyebutkan contoh, bahwa penanaman modal ekonomi, investasi pendidikan, kesehatan pastilah ada undang-undang yang mengaturnya, nah undang-undang sendiri adalah produk dari kebijakan politik. Yang lebih penting untuk dilakukan menurut Dia adalah membuka paradigma politik kita seluas-luasnya. Bahwa selain hitam, tidak selamanya putih, ternyata ada warna lain.


Empat puluh lima menit pemaparan materi, kemudian ada salah seorang siswa bernama Aryo yang juga menjabat Presiden BEM Teknik Universitas Muria Kudus mempertanyakan materi yang telah disamapaikan, menurutnya materi yang disampaikan terlalu sulit untuk dicerna, jadi dia meminta untuk menjelaskan secara detil apa politik itu? Apakah politik itu kekuasaan? Kemudian Kholid menjelaskan, bahwa politik memang harus berorientasi kekuasaan. Namun, jangan ketika telah memperoleh kekuasaan kemudian tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semata-mata politik adalah alat yang harus diraih untuk rakyat.

Acara sekolah politik berakhir pukul 22.30WIB. Dan sekolah sesi yang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2009 di tempat dan jam yang sama dengan menghadirkan guru Fajar Kartika. Seluruh siswa menyatakan penasaran dengan materi yang selanjutnya, menurut mereka sekolah ini sangat penting sebagai teori untuk jalan mereka dan sekaligus sebagai pengetahuan.
Categories: , ,

3 komentar:

adhit said...

sekolah politik, wah bagus.....

iin said...

kok pake istilah sekolah ya? emang kalo pengin ikutan harus bayar? gimana caranya kalo pingin ikut? kalo bukan anak PMII boleh ikut?

NU Magelang said...

semoga dengan sekolah pplitik lebih mendewasalan...sahabt2 PMII..jangan sampai terkena politik praktis! teruskan perjuangan kalian wahai sahabat...salam dari cabang magelang untuk sahabat PMII Kudus..