Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Tuesday, 2 June 2009

foto 2fpilpres kds-J18
SM/Ruli Aditio
Sara Merdeka-Suara Muria, 3 Juni 2009-hal2

INZET: Suwoko (Ketua PMII Kudus)


MEMASUKI masa pemilihan presiden (pilpres) masyarakat diimbau harus jeli melihat sosok calon pemimpin yang akan mereka pilih. Baik program maupun track recordnya, jadi jangan kepincut dengan iklan yang mereka buat diberbagai media masa.
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, Suwoko kemarin mengatakan tayangan iklan di media masa sangat mengecoh masyarakat dan selalu menipu.
"Penjelasan dalam iklan hanya ada kebaikan mereka, dan tidak mungkin kekurangan mereka ditunjukkan," katanya.
Untuk capres dan cawapres, yang terpenting adalah program ke depan, apa yang akan diberikan kepada rakyat jika mereka terpilih.
"Boleh saja para calon beradu argumen didepan masyarakat, namun jangan memberikan suguhan drama kepada masyarakat, artinya adu argumen itu jangan saling menyerang lawan dengan kejelekan mereka secara pribadi dan yang diserang merasa di dzolimi sehingga masyarakat iba dan melihat sosok mereka," ujarnya.
Hal ini sudah pernah terjadi pada tahun 2004, manakala SBY merasa dikucilkan di kabinet gotong royong, dan masyarakat iba melihat SBY.
"Calon harus saling serang dengan konsep dan gagasan yang akan mereka bawa ketika mereka terpilih nantinya," katanya.
Mengenai pertarungan wacana ekonomi kerakyatan dan neoliberal (neolib), masyarakat harus lebih jeli lagi. Gagasan ekonomi kerakyatan yang diusung oleh MEGA-PRO dan JK-WIN akhir-akhir ini membuat masyarakat menjadi bingung.
"Mereka hanya menyampaikan jargon, bukan program riil, kalaupun mereka menyampaikan program riil, masyarakat masih harus bertanya, bagaimana cara mereka untuk bisa merealisasikan program dengan kondisi Indonesia sekarang ini," katanya.
Mengenai pembelaan SBY-Boediono bahwa mereka tidak berfaham neolib, masyarakat pun harus lebih jeli lagi, kenapa? karena neolib sendiri multi tafsir.
"Menurut SBY-Boediono, mereka tidak menyerahkan sepenuhnya perekonomian Indonesia kepada mekanisme pasar, padahal kenyataannya esensi dari Ekonomi kerakyatan versus neolib adalah, bagaimana masyarakat dapat membangun perekonomian mereka, sehingga mereka bisa hidup sejahtera," tandasnya. (Ruli Aditio)
Categories: , , ,

0 komentar: