LA FEMME
Duduk kemudian berimanjinasi dan berkhayal
kala hari-hari tengah sibuk maupun sepi. Ya begitulah, itu masih tahap normal
manusia. Setidaknya, tidak menjadi peserta permanen rumah sakit jiwa. Ada cerita yang
telah dikristalkan dalam kitab abu-abu itu. Sakit yang tidak seperti biasanya, yang masih gagah memenuhi cover dari buku itu.
Perlahan buku itu diambilnya. Lembaran pertama tak ada sesuatu sama sekali. Dilanjutkan lembaran kedua ternyata masih kosong, lalu dibukalah lagi lembaran ketiga. Hingga sampai halaman keenam. Ditunggunya tak sabar. Berharap lembaran ketujuh ada kim di sana. Walhasil lembaran ketujuhpun tak ada titik, koma ataupun satu huruf sama sekali. Hmmm tidak ada, gumamnya. Sedikit geram namun dibukalah lagi lembaran selanjutnya. Matanya menyusuri sudut kanan halaman dan kemudian ditariklah ke bawah. Retina matanya membelai, sang pupil untuk mempertajam objek yang ditangkapnya. Si pupil pun tersenyum hingga senyumannya membangunkan si saraf untuk bertamu ke kerajaan mil otak. Di langit cereblum beberapa penari dari masing-masing rumah menepukkan saraf di bibirnya. Kini perempuan itupun tersenyum manis ramah seraya menirukan penari-penari dari langit cereblum yang berbunyi :
“...Dan kamu, kaum wanita Indonesia, ‐ akhirnya nasibmu adalah di tangan
kamu sendiri. Saya memberi peringatan kepada kaum laki‐laki itu untuk memberi
keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perjuangan, tetapi kamu sendiri
harus menjadi sadar, kamu sendiri harus terjun mutlak dalam perjuangan...”
Bung Karno dalam buku Sarinah; "Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia."
Bung Karno dalam buku Sarinah; "Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia."
(Sahabati Kifti H I )
0 komentar:
Post a Comment