Category 1

Follow us on Facebook

Instagram

Follow on Facebook

What's Trending?

Popular Posts

Follow on G+

Sunday, 13 December 2009

Pelatihan Kader Lanjut (PKL) adalah fase pengkaderan tertinggi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sebelumnya anggota dan kader diperkenalkan di Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) dan Pelatihan Kader Dasar (PKD). PKL adalah salah satu agenda PC PMII Kudus masa khidmat 2008/2009, dengan tujuan menuntaskan kader PMII Kudus dalam fase pengkaderan formal. PKL PC PMII Kudus dilaksanakan pada tanggal 30 Nopember hingga 4 Desember 2009 bertempat di Balai Diklat, Menawan, Gebog, Kudus. Dan Pembukaannya dilaksanakan pada tanggal 30 Nopember 2009 Pukul 13.30-17.00WIB di Pendopo Kabupaten Kudus dengan menghadirkan alumni dan kader PMII Kudus serta KH. Prof. DR. Said Agil Siraj.

PKL diikuti oleh kader PMII Kudus dan beberapa utusan PC PMII dari Jawa dan Sumatra yang berjumlah dua belas cabang. Setelah Registrasi peserta dan penempatan, acara dimulai dengan stadium general dengan tema “Revolusi Maritim dan Revolusi Pertanian Organik; Menegaskan Kedaulatan NKRI di Peta Posisi Pertarungan Global(Global Warring Position)” dan menghadirkan pembicara:
1. R. Wisnu Widjaya, ME.M.Sc (United Nation for Environment)
2. Prof. DR. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum (Pakar Maritin, Dosen Pasca Sarjana UNDIP)
3. Drs. H. Amir Machmudin (Ketua Inkopontren)

Dengan jadwal materi yang begitu padat, para peserta sangat dituntut untuk berkosentrasi penuh. Karena jika tidak, tentu mereka akan melewatkan pemateri-pemateri yang didatangkan panitia dan pastinya dari mereka yang sangat berkompten dibidangnya. Susunan materi yang disusun oleh panitia mengacu pada silabus yang diterbitkan oleh PB PMII dalam buku Multi Level Strategi yang didalamnya terdapat syarat-syarat pembuatan PKL, materi yang harus disajikan dan perangkat yang mesti dipersiapkan oleh panita dengan beban target sebagaimana tercantum dalam buku tersebut. PKL PC PMII Kudus secara global mengambil tema “Membangun Kemandirian Ekonomi; Menegaskan NKRI dalam Posisi Pertarungan Global(Global Warring Position)” . PKL ini mempunyai target membangun jejaring ekonomi antar daerah, antar pulau agar kedepan tersedia kader-kader PMII yang mampu menunjukkan eksistensi dan potensinya dibidang ekonomi. Dan masing-masing peserta dalam PKL ini diwajibkan menulikan artikel tentang potensi, peluang dan tantangan ekonomi di daerahnya masing-masing.

Selain stadium General, PKL ini sangat padat materi, diantaranya:
  1. PMII Perspektif Ideologi oleh Kisbiyanto, M.Pd (Dosen STAIN Kudus)
  2. Reposisi Gerakan PMII oleh Muhammad Kholid (Pengurus PB PMII)
  3. Geopolitik, Geoekonomi dan Geostrategi oleh Muhammad Mustafidz. S.Fil (Peneliti UGM)
  4. Sejarah Ekeonomi Indonesia oleh Triono Lukmantoro (Dosen UNDIP)
  5. Peta Pemikiran dan Gerakan Ekonomi Islam oleh Dr Ahmad Dimyati (Ketua Progdi Ekonomi Syariah STAIMAFA)
  6. Strategi Kebijakan Pembangunan Berbasis Maritim, Agraria, dan industri oleh Rif’an, MM (Pengusaha dan Anggota DPRD Jateng)
  7. Kemandirian Ekonomi Indonesia di bidang Energi oleh Dr. Lilo Sunaryo, Phd (Presiden Marem)

  8. Analisis Media oleh Edy Supratno, M.S (Ketua Asosiasi Jurnalis Indonesia Jawa Tengah)
  9. Management Aset Daerah oleh Dr. Ahmad Musyafa' (Dosen Pasca Sarjana UGM)
Dengan materi yang begitu padat, para peserta juga dilatih untuk berpikir dan mengungkapkan pendapatnya dalam pendalaman materi dan pengayaan ide. Diharapkan setelah acara PKL ini mereka mendapatkan semangat baru untuk melakukan aksi riil di tengah-tengah masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi. [woko]

Saturday, 12 December 2009


Pengajian Kebangsaan dan Temu Alumni dan Kader adalah salah satu bentuk dari citra diri PMII Kudus yang memegang teguh Ahlus-Sunnah wal-Jamaah dari segi theoligis. Acara yang telah dilaksanakan pada hari Senin 30 Nopember 2009 ini dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Kudus. Acara ini adalah rangkaian kegiatan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) Nasional yang telah dilaksanakan tanggal 30 Nopember sampai dengan 4 Desember 2009 di Balai Diklat Menawan, Gebog, Kudus dan dihadiri sebelas cabang dari Jawa dan Sumatra. Acara yang sekaligus sebagai pembukaan PKL Nasional ini dihadiri oleh ratusan pengunjung yang terdiri dari alumni, kader PMII Kudus dan tamu undangan ini menghadirkan KH. Prof. DR. Said Agil Siraj sebagai pembicara.

Dalam Mau'idlohnya Beliau menekankan pada masyarakat Nahdliyyin pada umumnya dan Kader PMII khusunya akan pentingnya menjaga kultur Nahdliyyin. Kultur yang dijalankan oleh warga Nahdliyyin di Indonesia adalah cerminan kehidupan Rosulullah SAW ketika membangun Madinah yang damai. Dalam menentukan sesuatu (Ijtihad) Warga Nahdliyyin menganut tiga metode; menggunakan dasar Al-Qu'an dan Hadits, Ijma'(Keputusan Para Ulama') dan Qiyas (Keputusan satu Ulama'). Karena tanpa ketiganya, tentu keputusan yang akan didapat tidak akan sempurna. Allah telah memberi kita otak untuk berpikir, oleh karenanya dengan otaklah para Ulama berpikir tentang segala apaun di dunia ini dan tentu dengan menggunakan dasar Al-Qur'an dan Hadits.


Beliau juga mengungkapkan bagaimana dulu Islam sangat disegani di belahan penjuru dunia. Namun Beliau mempertanyakan kenapa Islam sekarang begitu terpuruk? Ya karena mayarakat ulah umat Islam sendiri yang tidak meniru Rosulullah dalam menerapkan darrus-salam sebagaimana tercermin dalam piagam madinah. Dimana negara yang didalamnya terdapat umat (multi agama) yang berdiri dalam sebuah negara(nation) dan mempunyai tujuan dan cita-cita yang sama dan saling menghormati. Sehingga tercipta negara yang muttamaddin (madani).

Islam tidak akan maju jika hanya disebarkan dengan aqidah dan syari'at serta kekerasan. Islam harus membangun Islam dengan peradaban, budaya dan intelektual. Sehingga tercipta Islam yang Rahmatan Lil Alamiin, Islam yang damai. Islam Rahmatan Lil Alaminlah yang menjadi citra diri Islam sebenarnya dan yang paling tepat di Indonesia.[woko]


Monday, 7 December 2009

BIODATA PENGURUS CABANG
PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA(PMII)
KUDUS MASA KHIDMAT 2008/2009



KETUA UMUM
Nama : SUWOKO
Nama Pangg : Woko
Ttl : Kudus, 9 April 1985
Alamat : Desa Berugenjang Rt.3/I Kec. Undaan Kab. Kudus 59372
Nomer HP : 081325326737
Face Book : suwokokudus@gmail.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2003
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2003
Pesan Unt Kdr : Jadikan PMII sebagai ruang untuk berkhidmat....




SEKRETARIS UMUM
Nama : AHMAD SYAIFUDDIN
Nama Pangg : Udin / Bojes
Ttl : Kudus, 30 Oktober 1985
Alamat : Jl. Kampus UMK Gg.6 Ds. Dersalam Bae Kudus
Nomer HP : 085641733869
Face Book : asaybojes@yahoo.co.id
Kampus : STAIN Kudus
Fak/Jur/Angkt : Ekonomi Islam/Syari’ah/2004
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2004
Pesan Unt Kdr : PMII adalah perjuanganku.....




KETUA I (Kaderisasi)
Nama : FATHONI
Nama Pangg : Toni
Ttl : Grobogan, 26 Desember 1987
Alamat : Ds Terkesi Kec. Klambu Kabupaten Grobogan
Nomer HP : 085226165291
Face Book : fathoniizza@yahoo.com
Kampus : UNWAHAS
Fak/Jur/Angkt : FAI/PGMI/2006
Kmisriat/Angkt: KHR. Asnawi/2006
Pesan Unt Kdr : Jalani proses dengan kemantapan dan dilandasi dengan
keikhalasan.





KETUA II (Eksternal)
Nama : CHARIS ROHMAN
Nama Pangg : Charis / Gendut
Ttl : Kudus, 8 Februari 1986
Alamat : Desa Kedungdowo, Kec. Kaliwungu Kab. Kudus
Nomer HP : 085726826747/081326193664
Face Book : harismakasur@gmail.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2005
Pesan Unt Kdr : Jangan patah semangat!!!!





KETUA III (Keagamaan)
Nama : MUHAMMAD MAWAHIB
Nama Pangg : Pak Wahib
Ttl : Kudus, 12 Februari 1879
Alamat : Ds Kesambi Rt.2/X Kec. Mejobo Kab. Kudus
Nomer HP : 085290713428
Face Book : mawahib76@gmail.com
Kampus : UNWAHAS
Fak/Jur/Angkt : FAI/PAI/2006
Kmisriat/Angkt: KHR. Asnawi/2006
Pesan Unt Kdr : Jadikan PMII sebagai perjuangan mahasiswa, jangan
jadikan kendaraan politik mahasiswa.




KETUA IV (KOPRI)
Nama : LAILATUL ISTIQOMAH
Nama Pangg : Ela
Ttl : Rembang, 17 September 1986
Alamat : Desa Dalor Rt.3/XI Kec. Pamotan Kab. Rembang
Nomer HP : 085226205402
Face Book : ela_lovely@yahoo.com
Kampus : STAIN Kudus
Fak/Jur/Angkt : Syari’ah/Ekonomi Islam/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2005
Pesan Unt Kdr : Hidup hanya sekali, hiduplah PMII!!!





SEKRETARIS I
Nama : AUFA DZAKKA
Nama Pangg : Dzakka’ / Aufa
Ttl : Kudus, 6 Januari 1986
Alamat : Desa Langgar Dalem, Kec. Kota Kab. Kudus
Nomer HP : 085640232221
Face Book : aufadzakka@gmail.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : Fak Teknik/Elektro/2006
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2006
Pesan Unt Kdr : Semangat...Semangat Sahabat!!!!





SEKRETARIS II
Nama : ATIK NURUL ASIH
Nama Pangg : Atik
Ttl : Jakarta, 10 Desember 1987
Alamat : Desa Jekulo Kec. Jekulo Kab. Kudus
Nomer HP : 085290321123
Face Book : atixcantix@yahoo.com
Kampus : STAIN Kudus
Fak/Jur/Angkt : Syari’ah/Ekonomi Islam/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2005
Pesan Unt Kdr : Sungguh-sungguhlah di PMII, pasti ada hikmahnya!





SEKRETARIS III
Nama : SAIFUDDIN ZUHRI
Nama Pangg : Zuhri
Ttl : Kudus, 17 Januari 1985
Alamat : Desa Menawan Kec. Gebog Kab. Kudus
Nomer HP : 085290670185
Face Book : syaefuddin85@gmail.com
Kampus : STAIN Kudus/UNWAHAS
Fak/Jur/Angkt : Tarbiyah D2/2005, FAI/2007
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2005, KHR. Asnawi/2007
Pesan Unt Kdr : Berjuanglah untuk kemakmuran bangsa...





SEKRETARIS IV
Nama : ULIN NURFI’ANAH
Nama Pangg : Nana / Sinok
Ttl : Kudus, 11 April 1988
Alamat : Desa Honggosoco Kec. Jekulo Kab. Kudus
Nomer HP : 085290684202
Face Book : pacjekulo@ymail.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2006
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2006






BENDAHARA UMUM
Nama : NOOR KHASANAH
Nama Pangg : Acan
Ttl : Kudus, 2 Juni 1986
Alamat : Desa Prambatan Lor Rt. 01/IV No.960 Kec. Kaliwungu Kudus
Nomer HP : 08985669842
Face Book : noorkhasanah81@yahoo.co.id
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2004
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2004
Pesan Unt Kdr : Keep spirit for doing the best, OK???




WAKIL BENDAHARA
Nama : IMA MAWARTI
Nama Pangg : Ima
Ttl : Kudus, 26 Februari 1989
Alamat : Desa Gondangmanis Rt.07/XI Kec. Bae Kab. Kudus 59352
Nomer HP : 085640020834
Face Book : little_smile89@yahoo.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2006
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2006
Pesan Unt Kdr : Kharismatik, tangguh dan brilliant... Teruskanlah perjuangan ini sahabat!!!



KETUA DEPARTEMEN KADERISASI
Nama : BUDI ARIYANTO
Nama Pangg : Budi
Ttl : Kudus, 21 Mei 1985
Alamat : Desa Jepang Rt.01/IX Kec. Mejobo Kab. Kudus 59381
Nomer HP : 085226071561
Face Book : inibudijepang@yahoo.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2005
Pesan Unt Kdr : Ambilah nilai-nilai terbaik dalam organisasi dan abaikan yang batil. Tetaplah bersemangat!!!




ANGGOTA DEPARTEMEN KADERISASI
Nama : MOH. SAIFUDDIN NAWAWI
Nama Pangg : Nawawi
Ttl : Kudus, 13 Februari 1987
Alamat : Dk Kalilopo Desa Klumpit Rt.02/IV Kec. Gebog Kab. Kudus
Nomer HP : 085238455284
Face Book : saeynawawi14@yahoo.co.id
Kampus : UNWAHAS
Fak/Jur/Angkt : PAI/2005
Kmisriat/Angkt: KHR. Asnawi/2007
Pesan Unt Kdr : Jadilah orang baik (SAE)





KETUA DEPARTEMEN ADVOKASI
Nama : MUHROM ZAINUL MAHMUDI
Nama Pangg : Aril / Zen
Ttl : Rembang, 9 Mei 1986
Alamat : Desa Sendang Mulyo (Blebak) Kec. Gunem Kab. Rembang
Nomer HP : 081390431321
Face Book : aril.rembang@gmail.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2005
Pesan Unt Kdr : PMII adalah semangat hidup!!!





ANGGOTA DEPARTEMEN ADVOKASI
Nama : MUHAMMAD ZAINAL ABIDIN
Nama Pangg : Abid
Ttl : Blora, 14 Mei 1986
Alamat : Desa Tawangrejo Kec. Kunduran Kab. Blora
Nomer HP : 085225898763
Face Book : Muhammad.profesor.abidin123@gmail.com
Kampus : STAIN Kudus
Fak/Jur/Angkt : Tarbiyah/PAI/2004
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2004
Pesan Unt Kdr : Tataplah hari ini dan esok dengan semangat dan cinta.
Gunakanlah kesempatan dengan sebaik-baiknya.




KETUA DEPARTEMEN PERS
Nama : AGUS SULISTIYANTO
Nama Pangg : Agus
Ttl : Kudus, 22 Oktober 1987
Alamat : Desa Lau Kec. Dawe Kab. Kudus
Nomer HP : 085226151720
Face Book : agus_ana22@yahoo.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2006
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2006
Pesan Unt Kdr : Do the best!!!





ANGGOTA DEPARTEMEN PERS
Nama : MUFLICHUN
Nama Pangg : Ly chun (Licun)
Ttl : Kudus, 31 Januari 1985
Alamat : Desa Bakalan Krapyak Rt.03/III Kec. Kaliwungu Kab. Kudus
Nomer HP : 085225109223
Face Book : muflichun@rocketmail.com
Kampus : STAIN Kudus
Fak/Jur/Angkt : Syari’ah/Ekonomi Islam/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2005
Pesan Unt Kdr : Berproseslah di PMII dengan sehat. Jangan hanya menganggap
baik budaya PMII yang ada, tetapi juga budayakanlah kebaikan
di PMII.




KETUA DEPARTEMEN KAJIAN
Nama : MUH. CHUSNAN
Nama Pangg : Chusnan
Ttl : Kudus, 21 Agustus 1986
Alamat : Desa Honggosoco Rt.05/II Kec. Jekulo Kab. Kudus
Nomer HP : 08522659119
Face Book : conan_gen88@yahoo.com
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2005
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2005
Pesan Unt Kdr : Perubahan takkan pernah terwujud jika tidak kita rebut. Keep
our spirit and motivation to create better Indonesia!




ANGGOTA DEPARTEMEN KAJIAN
Nama : MAKIN
Nama Pangg : Makin
Ttl : Jepara, 20 Juli 1973
Alamat : Dk. Tengguli, Ds. Kemlokomanis Kec. Bangsri Kab. Jepara
Nomer HP : (0291) 9100555
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2003
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2003









KETUA DEPARTEMEN BUDAYA
Nama : AHMAD AMIR FAISOL
Nama Pangg : Faisol / Bugil / Faiz / Acong
Ttl : Jepara, 17 Mei 1986
Alamat : Desa Srikandang Rt.03/II Kec. Bangsri Kab. Jepara
Nomer HP : 085225866313
Face Book : faisolamir86@gmail.com
Kampus : STAIN Kudus
Fak/Jur/Angkt : Tarbiyah / PAI / 2004
Kmisriat/Angkt: Sunan Kudus/2004
Pesan Unt Kdr : Indahnya kebersamaan antar kader dan saling berjalan
beriringan demi terwujudnya PMII yang tangguh di kemudian
hari.




ANGGOTA DEPARTEMEN BUDAYA
Nama : UMMI ROUDLOTUN NI’MAH
Nama Pangg : Umi
Ttl : Kudus, 11 April 1988
Alamat : Desa Honggosoco Rt.05/II Kec. Jekulo Kab. Kudus
Nomer HP : 08522891744
Face Book : ummybeswanku@yahoo.co.id
Kampus : Universitas Muria Kudus
Fak/Jur/Angkt : FKIP/Bahasa Inggris/2006
Kmisriat/Angkt: Sunan Muria/2006




Tuesday, 3 November 2009

PMII Kudus telah berusia lebih dari empat puluh enam tahun lebih dan menjadi PMII dengan kader terbesar kedua di Jawa Tengah. Hal ini menjadikan alasan untuk Pengurus PMII Cabang Kudus untuk meningkatkan kualitas kaderisasi. Sejauh ini Pengurus Cabang PMII Kudus sering tidak tuntas dalam menjalankan proses kaderisasi dengan tidak melaksanakan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) sebagai proses kaderisasi paling tinggi di PMII. Diakui banyak kendala yang dihadapi. Yang paling menjadi kendala adalah menyiapkan para narasumber yang berkompeten untuk mengisi materi-materi PKL.

Namun, Pada masa khidmat tahun ini, Pengurus Cabang PMII Kudus bertekad untuk menyelenggarakan PKL dengan alasan kebutuhan kaderisasi yang selama ini belum tuntas secara struktural. PKL akan diselenggaran pada tanggal 30 Nopember s/d 4 Desember 2009. Acara akan dibuka dengan pengajian kebangsaan dengan diisi oleh KH. Musthofa Bisri dari Rembang.

Tema besar yang akan diangkat adalah “Membangun Kemandirian Ekonomi; Menegaskan NKRI dalam Posisi Pertarungan Global(Global Warring Position)”.


Rencananya, untuk acara PKL akan di ikuti oleh tiga puluh cabang di Jawa Tengah dan beberapa cabang dari luar Jawa Tengah. Untuk cabang-cabang lain yang berniat untuk ikut serta harus memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Peserta telah mengikuti PKD dengan menunjukkan sertifikat atau surat keterangan dari ketua cabang bersangkutan
2. Membuat artikel tentang potnesi, peluang dan tantangan ekonomi daerah masing-masing
3. Membayar kontribusi peserta sebesar Rp. 50.000,-
Untuk detil kegiatan bisa menghubungi kami di 081325326737 (SUWOKO)

Semoga dengan digelarnya ini menambah militansi kader akan ideologi PMII. Dan harapan khususnya semoga pasca PKL ini akan terjalin hubungan ekonomi antar pulau di kalangan kader PMII.

Saturday, 19 September 2009

Idul Fitri adalah hari istimewa. Di dalamnya terkandung sekaligus dua peristiwa, spiritual dan sosial. Secara spiritual, Idul Fitri kerap diartikan sebagai momen kemenangan bagi umat Islam, setelah melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh. Ketika puasa, seseorang menahan lapar-haus sepanjang hari dan tidak melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa. Orang kaya bisa ikut merasakan penderitaan orang-orang miskin yang hari-harinya penuh lapar dan haus, sementara si miskin bisa meningkatkan daya sabarnya di tengah kemiskinan dan kemelaratan yang melilitnya.
Tatkala puasa dijalankan, setiap orang diminta mengendalikan diri, baik jasad maupun hati dan pikiran, agar tak terjatuh pada dosa, baik dosa privat maupun dosa publik, sehingga bisa mengantar yang bersangkutan kepada "fitrah"-nya yang asal. Minggu terakhir Ramadhan, munajat malam intensif dipanjatkan dengan rendah hati dan suara lirih, tanpa sorotan kamera, pengeras suara, apalagi beduk bertalu-talu. Kaum Muslim giat bertobat karena tak satu orang pun bisa menghindar dari dosa.


Makhluk Allah
Kemustahilan menghindari dosa menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang daif. Sebuah hadis menyebutkan, al-nas kulluhum khaththa’un wa khair al-khaththa’in al-tawwabun (semua manusia bersalah, dan orang terbaik saat bersalah adalah mereka yang bertobat).
Pengakuan dosa adalah penegasan sebuah kesalahan. Dengan merasakan dosa dan kesalahan, manusia sadar akan kedaifan dirinya. Di saat itulah ia perlu merenungkan kesempurnaan sifat-sifat Tuhan dan terus menanamkannya dalam diri. Penubuhan (embodiment) sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia adalah proses yang tanpa akhir, karena manusia tak akan pernah bisa menjadi Dia, Allah. Dengan demikian, tak ada alasan bagi seseorang untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain. Pada hari Idul Fitri, secara simbolik orang saling bermaafan, satu dengan yang lain. Di kampung, orang saling berkunjung, dari pintu ke pintu, meminta maaf atas kekeliruan yang pernah dilakukan.

Di lingkungan masyarakat kota dan kosmopolitan, saat silaturahmi fisikal makin tidak mungkin dilakukan, orang melakukan permintaan maaf melalui media teknologi komunikasi seperti SMS (layanan pesan singkat) atau melalui internet dengan mengirimkan e-mail. Bahkan, umat non-Muslim pun ikut ambil bagian dari perayaan Lebaran itu. Ucapan selamat Idul Fitri dari umat agama lain hilir mudik masuk ke dalam HP umat Islam. Pada hari raya Idul Fitri ini, relasi-relasi kemanusiaan yang melintasi batas-batas agama muncul secara tak terkendali. Lebaran akhirnya tak mudah diberi tapal batas ras, kelas, bahkan agama.

Lebaran, peristiwa sosial
Dalam konteks masyarakat Indonesia, Lebaran tak hanya merupakan "properti" atau hak milik umat Islam. Ia telah menjadi peristiwa sosial yang melibatkan umat agama lain. Idul Fitri tak lagi menjadi kegembiraan eksklusif mereka yang berpuasa, tetapi juga milik mereka yang sepanjang hidupnya tak pernah menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri tak hanya dirayakan para ulama dan kaum santri, tetapi juga kaum abangan. Kegembiraan Lebaran dirasakan semua warga bangsa.

Menurut Islam, ketika Lebaran tiba, tak boleh ada satu orang pun yang menderita kelaparan. Karena itu, zakat fitrah disyariatkan. Dalam pandangan sebagian (bukan semua) mufasir Al Quran, zakat tak harus diberikan kepada umat Islam yang fakir dan miskin.
Bersandar pada QS Al Baqarah (2): 272 "apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan Allah, maka pahalanya adalah untukmu jua", Al-Qurthubi dalam al-Jami` li Ahkam al-Quran (Jilid II, halaman 290) membolehkan umat Islam sekiranya hendak bersedekah kepada umat non-Muslim bahkan kaum musyrik. Pendapat yang sama dikemukakan Imam Abu Hanifah. Al-Mahdawi yang menegaskan, ayat itu menunjukkan dibolehkannya berzakat kepada sanak saudara yang miskin sekalipun musyrik. Menurut Muhammad Rasyid Ridha, kasih sayang dan bantuan kepada orang miskin tak perlu menunggu sampai yang bersangkutan masuk Islam.

Berbeda tetapi satu
Pendapat itu tampaknya yang dijadikan acuan sebagian ulama Indonesia yang membolehkan umat Islam berzakat kepada non-Muslim, dan mereka pun tak mempersoalkan sekiranya umat Islam menerima bantuan dari umat agama lain. Itu sebabnya, hubungan umat Islam dengan umat agama lain di Indonesia terasa amat dekat dan mesra. Bahkan, sebagian pesantren di Jawa memiliki program dan kerja sama dengan umat agama lain. Fenomena itu kiranya tak mudah dicari bandingannya di negeri lain, di mana harmoni antarumat beragama dan antarumat Islam bisa dirajut dengan baik. Orang non-Muslim bisa memberikan ketupat Lebaran bagi umat Islam.

Meskipun Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah berkali-kali berbeda dalam penentuan hari raya Idul Fitri, warga dua ormas itu tidak terlibat konflik, apalagi pertumpahan darah. Kiranya, inilah sebuah kedewasaan dan kematangan umat Islam Indonesia dalam beragama. Sebagai antipode, lihatlah pertengkaran antarumat Islam (Sunni dan Syiah) di Timur Tengah yang hingga kini tak kunjung henti.

Idul Fitri adalah permulaan hari baru, di mana masyarakat telah mengalami perubahan atau transformasi dalam dirinya. Idul Fitri bukan hari dengan mobil baru dan pakaian baru (liman labisa al-jadid), tetapi hari di mana individu-individu dengan kesadaran baru (liman tha’athuhu tazidu) akan datang mengisi ruang-ruang publik Indonesia. Memang, bukan manusia sempurna yang tak pernah terwujud, tetapi manusia yang sadar akan keterbatasannya dan belajar dari beberapa kekeliruan yang pernah dibuatnya. Harapannya, dari tangan manusia-manusia baru ini akan lahir Indonesia Baru, Indonesia yang makmur dan diridai Tuhan.

Penulis: Abd Moqsith Ghazali
*Peneliti The Wahid Institute; Pengajar Departemen Filsafat dan Agama Universitas Paramadina Jakarta.
Menjelang digelarnya Muktamar ke-32 NU di Makassar, keberadaan organisasi mahasiswa yang secara langsung berada dibawah struktur PBNU kembali dibincangkan dalam halaqah pra-muktamar yang diselenggarakan di Jakarta, Agustus 2009 silam.

Ada dua pandangan besar diantara peserta halaqah. Ada yang menginginkan dibentuknya organisasi mahasiswa baru, sedangkan pendapat kedua berkeinginan untuk memaksimalkan organisasi yang saat ini sudah ada, yaitu IPNU (Ikatan Pelajar NU), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU). Kelompok yang setuju pendirian organisasi mahasiswa baru berpendapat, organisasi ini penting untuk merawat dan mengembangkan jaringan mahasiswa dengan ideologi ahlusunnah wal jamaah yang saat ini menghadapi tantangan kelompok wahabi/ikhwan.



Keberadaan PMII dan IPNU dianggap kurang mampu mewadahi, karena PMII sudah dinilai semakin jauh dari ajaran NU, sedangkan IPNU kurang diterima dikalangan mahasiswa karena diperuntukkan untuk segmen pelajar sekolah menengah, yaitu kalangan SMP-SMA atau Tsanawiyah dan Aliyah.

Sinyalemen bahwa PMII sudah semakin jauh dari NU karena menyatakan independen dari NU sejak 1972 dibantah oleh aktivis PMII di UI, Ahmad Munir. Munir menyatakan bahwa PMII justru menjadi garda depan dalam dakwah Islam ahlussunnah wal jamaah di UI. “Walaupun Kampus UI menjadi pusat gerakan Ikhwanul Muslimin, kami tetap konsisten berjuang mengajak rekan-rekan mahasiswa UI masuk PMII dan mengenalkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamiin serta masih mengamalkan ubudiyah khas NU seperti tahlil, manaqiban dan istighotsah,” urai Munir yang kuliah di jurusan Geografi UI.

Munir berharap PBNU jangan membuat organisasi mahasiswa baru, tapi lebih mengoptimalkan organisasi yang sudah ada terutama IPNU-IPPNU. “IPNU harus memotivasi dan memfasilitasi pelajar-pelajar NU agar bisa kuliah di kampus-kampus unggulan dan setelah masuk kampus bergabung dengan PMII agar tidak putus kaderisasi ke-NU-annya”, tandas Munir yang juga alumni Pesantren Kilat Sukses SNMPTN 2008 yang diselenggarakan Yayasan MataAir Jakarta. (alf)sumber: gusmus.net

Wednesday, 26 August 2009

Jum'at 21 Agustus 2009, di Aula gedung DPRD Kudus telah dilaksanakan pelantikan atas calon legislatif terpilih pada pemilu legislatif tahun 2009. Ini bisa dikatakan sebagai puncak atas semua proses demokrasi yang telah berjalan, namun secara esensi pelantikan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) yang baru ini adalah sebuah permulaan dari sebuah pelaksanaan tanggung jawab atas apa yang dilimpahkan kepada mereka dari rakyat. Untuk menyambut pelantikan mereka, AMAR (Aliansi Mahasiswa dan Rakyat) Menggugat menyambut pelantikan mereka dengan aksi damai. Amar yang terdiri dari elemen kemahasiswaan dan kemasyarakatan, yakni PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cabang Kudus, LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), FSBDSI (Federasi Sarikat Buruh Demokrasi Indonesia), LPH YAPHI (Lembaga Pengabdian Hukum Yekti Angudi Panegaking Hukum Indonesia), BEM FKIP (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) UMK (Universitas Muria Kudus), BEM FT(Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik) UMK dan PRD memulai aksi dari Jalan A. Yani Kudus hingga halaman Gedung DPRD Kudus

Sekitar lima puluh personil kepolisian dari Polres Kudus dan Polsekta Kudus mengawal jalannya aksi damai. Bertindak sebagai koordinator aksi, Suwoko yang juga menjabat sebagai ketua umun PMII Cabang Kudus dalam orasinya menyampaikan beberapa tuntutan yang sekaligus draf kontrak politik yang akan diajukan kepada anggota Dewan yang baru. Diantaranya, anggota DPRD Kudus yang baru harus; 1. Anti Neo Kapitalisme dan neoliberalisme 2. Berjanji untuk tidak melakukan korupsi 3. Pro terhadap kepentingan rakyat 4. Meminimalisir anggaran kerja dewan 5. Meninjau kembali kunker (Kunjungan Kerja) yang tidak efektif 6. Melaksanakan janji-janji kampanye Setelah menungu lama, akhirnya tiga dari anggota DPRD Kudus yang baru saja dilantik turun dan menemui pada demonstran. Mereka adlah Nor Hartoyo, SH. dari PDIP, Ali Ikhsan, S.Ag dari PKB dan Superiyanto dari PIS. Mereka menyatakan menyambut baik kepada para demonstran yang telah peduli terhadap anggota DPRD meskipun baru dilantik dan belum melaksanakan kinerjanya. Dalam kesempatan itu pula ketiganya menyatakan diri siap untuk menyepakati kontrak politik yang telah diajukan oleh AMAR Menggugat. Mereka menandatangani surat kesepahaman atau kontrak politik tersebut dihadapan oleh media cetak dan elektronik serta para demonstran. Suwoko sebagai koordinator lapangan mengaku senang atas respon dari anggota Dewan yang menandatangani kontrak politik tersebut, meskipun hanya tiga anggota Dewan. Dia juga berharap anggota Dewan yang lain akan menyusul dan kedepan mampu bekerjasama dalam melakukan kontrosl terhadap kebijakan eksekutif demi rakyat Kudus

Saturday, 15 August 2009

Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan 17 Agustus 2009, Pengurus Koordinator Cabang PMII Jawa Tengah menggelar acara Diklat kepemimpinan dan Keorganisasian. Acara ini dihadiri oleh seluruh Pengurus Cabang yang ada di Jawa Tengah yang berjumlah 22 cabang. Acara yang akan berlangsung selama tiga hari, mulai hari Jum'at 14 Agustus sampai 16 Agustus 2009 dan bertempat di SKB Lembah Tidar Magelang ini mengambil tema"Dengan Semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 untuk Kejayaan Bangsa; Menata Strategi Kaderisasi PMII Bervisi 20 Tahun Kedepan (2010-2030). Acara dibuka dengan Diskusi kebangsaan sebagai sebuah refleksi atas situasi bangsa saat ini. Hadir dalam acara diskusi Gubernur Akmil dan Ketua Umum PMII Jawa Tengah. Dalam diskusi tersebut dibahas mengenai kondisi pertahanan Indonesia saat ini dan isu-isu yang berkaitan dengan pertahanan.

setelah acara pembukaan hingga tiga hari kedepan seluruh peserta akan memaparkan kondisi pengkaderan di daerah masing-masing dan sejauh mana pengurus cabang PMII se-Jawa Tengah mengimplementasikan konsep Multi Level Strategi. Untuk mengawali proses pemaparan dari masing-masing cabang diadakanbrain storming sebagai bekal untuk masing-masing peserta sebelum mereka memaparkan konsep dan gagasan dari masing-masing daerah. Acara Brain Storming tersebut akan diisi oleh beberapa narasumber yang sesuai dengan materi yang telah digariskan oleh panitia. Semoga dengan Acara ini seluruh pengurus cabang PMII se-Jawa Tengah dapat menyadari pentingnya kolektifitas gerakan, sehingga dapat terwujud cita-cita PMII kedepan dan kader-kader PMII Jawa Tengah dapat menjadi pioner-pioner di tengah-tengah masyarakat yang Rahmatan Lil 'Alamin.

Monday, 15 June 2009

Kegiatan Peningkatan Mutu Kader dan Pengembangan Desa Mandiri adalah sebuah gagasan yang dilatar belakangi oleh keresahan sahabat-sahabat pengurus cabang PMII Kudus atas menurunnya gerakan ditengah-tengah kader, baik gerakan kemahaiswaan yang bergerak mengawal isu-isu, maupun gerakan intelektual. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 12-14 Juni 2009 di desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kudus.
Acara dimulai ba'da maghrib dengan acara ceremonial, yakni menyanyikan lagu Indonesia dan Mars PMII, serta Tahlil sebagai ciri khas kader ASWAJA. Selain itu, Suwoko selaku ketua PMII Kudus memberikan sambutan, dan bercerita latar belakang kegiatan kepada para peserta. Dia juga mengungkapkan, bahwa menjadi kader PMII yang militan haruslah ada kata ASWAJA di dalam hatinya, mengembalikan segala sesuatu kepada ASWAJA, bertanya segala hal dalam kehidupan kepada ASWAJA, bukan dengan nalar yang tercampur aduk dan bertolak pada ideologi yang carut-marut.
Pada acara yang dihadiri oleh 17 peserta yang datang dari kader PMII Komisariat Sunan Kudus, PMII Komisariat Sunan Muria dan PMII Komisariat KHR Asnawi, serta beberapa Badan Otonom PMII Kudus ini memang tidak mengundang banyak peserta, hanya mereka yang mempunyai kewenangan terhadap organ dibawah Cabanglah yang diwajibkan untuk mengikuti.
Pada sesi materi pertama, Suwoko selaku ketua PMII Kudus yang bertanggungjawab atas berjalannya kegiatan tersebut menyampaikan materi untuk sesi pertama. Suwoko mengupas secara tuntas tentang Ideologi ASWAJA. Sebagaimana yang telah ia sampaikan disambutan acara pembukaan, dia mengulangi beberapa hal, diantaranya tentang ruang batin yang belum menyatu antara individu kader dengan ruh ASWAJA. Banyak dari kader yang bertindak dan berfikir yang dilandasi bukan atas landasan ASWAJA. Sebagai kader PMII yang berideologi ASWAJA selayaknya para kader menjalankan segala sesuatu atas dasar ASWAJA. Lebih lanjut Suwoko menjelaskan cita-cita PMII, yakni membentuk pribadi muslim yang cakap, bertaqwa, berbudi luhur, bertanggung jawab atas ilmunya dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Didalam cita-cita PMII disebutkan bahwa, sebagai kader PMII dan sekaligus menjadi warga negara Indonesia mereka wajib mewujudkan cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia, artinya bagi kader PMII, NKRI harga mati!
Pada acara tersebut dilaksanakan pula ziyarah wali yang tidak jauh dari lokasi kegiatan, tepatnya 2 km dari lokasi kegiatan ada sebuah makam wali yang masih banyak diziyarahi oleh banyak warga. Wali tersebut bernama Raden Bagus Muknin atau Kanjeng Sunan Prawoto yang masih punya silsilah sebagai pangerak kerajaan Demak Bintoro. Pada malam yang terakhir kegiatan ini, masyarakat berugenjang terutama anak-anak disuguhkan film Laskar Pelangi yang diputar pada sebuah LCD Projektor yang menampilkan gambar berukuran 4x3 m. Saking antusisnya masyarakat sekitar, terutama anak-anak mereka berbondong-bondong memadati halaman tempak kegiatan dilaksanakan.


Kenapa harus Laskar Pelangi? Karena, gagasan pengembangan desa mandiri ini akan dimulai dengan menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat pedesaan akan potensi alam dan sosial yang mereka miliki. Sahabat-sahabat PMII Kudus yakin bahwa film Laskar Pelangi dapat menumbuhkan kesadaran dan cita-cita mereka untuk bisa hidup mandiri, tanpa terpengaruh oleh dampak negatif ekonomi global dan pengaruh kebudayaan-kebudayaan asing dapat merusak citra diri bangsa. Jika disadari, potensi sosial dan potensi ekonomi yang mereka miliki saat ini dapat dikatakan mereka telah hidup dalam kondisi sosial dan ekonomi yang mandiri. Hal ini dapat dilihat dari interaksi sosial dan ekonomi yang mereka jalankan selama ini.
Jika dilihat, masyarakat di desa Berugenjang kecamatan Undaan kabupaten Kudus tanpa sadar telah menjalankan kehidupan mereka secara mandiri dalam sebuah kelompok masyarakat yang lebih sempit, yakni lingkup pedesaan. Di bidang ekonomi, mereka mencukupi kebutuhan pokok mereka dari hasil alam di sekitar mereka yang mereka kelola. Mereka mendapatkan beras dari hasil menanam padi di sawah-sawah sekitar permukiman, mereka mendapatkan sayur-mayur dari hasil menanam sayuran di halamn rumah-rumah mereka atau di pematang sawah-sawah mereka(tumpang sari). Di bidang energi, mereka menggunakan kayu bakar untuk memasak yang mereka dapatkan dari hasil penanam pohon di sekeliling rumah mereka atau tahah kosong yang mereka miliki. Jika dilihat dari interaksi sosial mereka, mereka masih menjalankan kebudayaan dari leluhur sebagai media untuk berinteraksi sosial, seperti contoh nyadran, apitan, sedekah bumi, sambatan dan lain sebagainya.
Dari gagasan awal ini, diharapkan semua pihak melakukan penyadaran terhadap masyarakat pedesaan agar mereka mampu melihat dan menyadari akan potensi yang mereka miliki. Mereka selayaknya mendapatkan pendidikan dan pengarahan agar selalu menjaga potensi yang mereka miliki sehingga kehidupan yang mandiri dapat mereka nikmati hingga waktu yang tak terbatas.


Thursday, 11 June 2009

Setiap malam jum'at, seperti biasanya PMII Cabang Kudus mengadakan sekolah politik yang tujuannya membekali kader Pmii Kudus dengan pengetahuan politik secara luas. Di sesi yang ke dua ini hadir sebagai guru, Fajar Kartika, M.Hum yang saat ini menjadi staf pengajar di Universitas Muria Kudus. Pada pertemuan kedua kali ini dibahas tentang perpolitikan di Indonesia. Senada dengan apa yang dibahas pada pertemuan yang pertama, Sahabat Fajar juga menyampaikan bahwa dalam proses berpolitik di Indonesia melepaskan politik dengan filosofi, artinya dalam menjalankan proses politik masyarakat indonesia hanya memandang politik dari sisi politi saja (ansich). Hal inilah yang menyebabkan arah perpolitikan di Indonesia tidak tentu arahnya. Jika hal ini terus menjadi trend di tengah masyarakat, maka tak heran jika nanti masyarakat kebanyakan akan apolitis, artinya masyarakat akan apatis terhadap perpolitikan di Indonesia, karena [politik yang mereka lihat hanya bertumpu pada tokoh politi semata, yang kita tahu banyak tokoh politik yang amoral. selengkapnya

Friday, 5 June 2009


Sekolah politik sesi pertama telah dilaksanakan tadi malam (4 Juni 2009) di kantor cabang PMII Kudus, jalan kampus UMK gang 6 Dersalam, Bae Kudus. Acara yang berlangsung tiga jam lebih ini dihadiri 10 siswa yang berasal dari penguruh komisarian yang ada dibawah PMII Kudus. Di sesi pertama, sekolah politik ini mengangkat materi tentang pengenalan politik yang mendasar, yakni politik dilihat dari pengertian teksnya, politik dilihat dari konteks dasarnya. Hadir di dalam sesi ini sebagai guru, Kholid Mawardi, seorang aktivis di Kudus yang lama berkecipung di dunia pergerakan.

Kholid menyampaikan, bahwa politik adalah tindakan seseorang untuk mengambil suatu keputusan apapun di dalam kehidupannya. Dia juga mengatakan, bahwa politik lahir dari sebuah philosofi yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Jadi, tidak tepat jika politik dipisahkan dari nilai, norma yang berkembang di masyarakat. Jika politik dipisahkan dari nilai philosofi, maka yang terjadi adalah carut-marutnya proses politik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat di tengah-tengah masyarakat kita di Indonesia. selengkapnya.......

foto 2fpilpres kds-J18
SM/Ruli Aditio
Sara Merdeka-Suara Muria, 3 Juni 2009-hal2

INZET: Suwoko (Ketua PMII Kudus)


MEMASUKI masa pemilihan presiden (pilpres) masyarakat diimbau harus jeli melihat sosok calon pemimpin yang akan mereka pilih. Baik program maupun track recordnya, jadi jangan kepincut dengan iklan yang mereka buat diberbagai media masa.
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, Suwoko kemarin mengatakan tayangan iklan di media masa sangat mengecoh masyarakat dan selalu menipu.
"Penjelasan dalam iklan hanya ada kebaikan mereka, dan tidak mungkin kekurangan mereka ditunjukkan," katanya.
Untuk capres dan cawapres, yang terpenting adalah program ke depan, apa yang akan diberikan kepada rakyat jika mereka terpilih.
selengkapnya..........
Peringatan May Day dirayakan para buruh di Kudus dengan sangat meriah. Peringatan kali ini diperingati pada tanggal 1 Mei 2009 di depan pendopo kabupaten kudus, atau tepatnya di alun-alun Kudus. Peringatan kali ini diikuti oleh sekitar enam ratus lebih, yang terdiri dari buruh perusahaan rokok di Kudus(Buruh Rokok Jambu Bol), elemen kemahasiswaan(PMII Kudus, LMND, BEM STAIN Kudus), LSM (PRD, YAPHI, FSBDSI) dan masyarakat Kudus. Dengan pengawalan yang sangat ketat oleh pihak kepolisian kabupaten Kudus, acara peringatan berjalan dengan sangat meriah tidak ada kericuhan yang terjadi. Pada acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, masing masing elemen melakukan orasi di atas mobil yang telah disediakan oleh FSBDSI, salah satu organisasi sarikat buruh di Kudus yang sangat konsen terhadap nasib buruh rokok di Kudus, terutama buruh rokok Jambu Bol yang telah mengalami permasalahan PHK. selengkapnya.........

Thursday, 4 June 2009


Sekolah politik sesi pertama telah dilaksanakan tadi malam (4 Juni 2009) di kantor cabang PMII Kudus, jalan kampus UMK gang 6 Dersalam, Bae Kudus. Acara yang berlangsung tiga jam lebih ini dihadiri 10 siswa yang berasal dari penguruh komisarian yang ada dibawah PMII Kudus. Di sesi pertama, sekolah politik ini mengangkat materi tentang pengenalan politik yang mendasar, yakni politik dilihat dari pengertian teksnya, politik dilihat dari konteks dasarnya. Hadir di dalam sesi ini sebagai guru, Kholid Mawardi, seorang aktivis di Kudus yang lama berkecipung di dunia pergerakan.

Kholid menyampaikan, bahwa politik adalah tindakan seseorang untuk mengambil suatu keputusan apapun di dalam kehidupannya. Dia juga mengatakan, bahwa politik lahir dari sebuah philosofi yang lahir dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Jadi, tidak tepat jika politik dipisahkan dari nilai, norma yang berkembang di masyarakat. Jika politik dipisahkan dari nilai philosofi, maka yang terjadi adalah carut-marutnya proses politik di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat di tengah-tengah masyarakat kita di Indonesia.

Lebih jauh Dia mengatakan, bahwa di masyarakat Indonesia tidak secara baku menggunakan nilai philosofi dari leluhur yang telah ada dan justru banyak mengadopsi alur politik yang ada di luar masyarakat Indonesia sendiri. Akibatnya proses politik yang berjalan di Indonesia tidak tentu arahnya.

Secara mendasar politik adalah sebuah tindakan dalam memutuskan sesuatu di dalam kehidupan. Jadi, ketika seseorang menganggap bahwa politik itu kejam, tidak selamanya benar. Dan politik menempati peringkat pertama bagi sebuat tata masyarakat, kemudian ekonomi, pendidikan dan seterusnya. Karena sebuah proses dibidang lain selain politik akan sangat dipengaruhi oleh keputusan politik. Dia menyebutkan contoh, bahwa penanaman modal ekonomi, investasi pendidikan, kesehatan pastilah ada undang-undang yang mengaturnya, nah undang-undang sendiri adalah produk dari kebijakan politik. Yang lebih penting untuk dilakukan menurut Dia adalah membuka paradigma politik kita seluas-luasnya. Bahwa selain hitam, tidak selamanya putih, ternyata ada warna lain.


Empat puluh lima menit pemaparan materi, kemudian ada salah seorang siswa bernama Aryo yang juga menjabat Presiden BEM Teknik Universitas Muria Kudus mempertanyakan materi yang telah disamapaikan, menurutnya materi yang disampaikan terlalu sulit untuk dicerna, jadi dia meminta untuk menjelaskan secara detil apa politik itu? Apakah politik itu kekuasaan? Kemudian Kholid menjelaskan, bahwa politik memang harus berorientasi kekuasaan. Namun, jangan ketika telah memperoleh kekuasaan kemudian tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semata-mata politik adalah alat yang harus diraih untuk rakyat.

Acara sekolah politik berakhir pukul 22.30WIB. Dan sekolah sesi yang kedua akan dilaksanakan pada tanggal 11 Juni 2009 di tempat dan jam yang sama dengan menghadirkan guru Fajar Kartika. Seluruh siswa menyatakan penasaran dengan materi yang selanjutnya, menurut mereka sekolah ini sangat penting sebagai teori untuk jalan mereka dan sekaligus sebagai pengetahuan.

Tuesday, 2 June 2009

foto 2fpilpres kds-J18
SM/Ruli Aditio
Sara Merdeka-Suara Muria, 3 Juni 2009-hal2

INZET: Suwoko (Ketua PMII Kudus)


MEMASUKI masa pemilihan presiden (pilpres) masyarakat diimbau harus jeli melihat sosok calon pemimpin yang akan mereka pilih. Baik program maupun track recordnya, jadi jangan kepincut dengan iklan yang mereka buat diberbagai media masa.
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus, Suwoko kemarin mengatakan tayangan iklan di media masa sangat mengecoh masyarakat dan selalu menipu.
"Penjelasan dalam iklan hanya ada kebaikan mereka, dan tidak mungkin kekurangan mereka ditunjukkan," katanya.
Untuk capres dan cawapres, yang terpenting adalah program ke depan, apa yang akan diberikan kepada rakyat jika mereka terpilih.
"Boleh saja para calon beradu argumen didepan masyarakat, namun jangan memberikan suguhan drama kepada masyarakat, artinya adu argumen itu jangan saling menyerang lawan dengan kejelekan mereka secara pribadi dan yang diserang merasa di dzolimi sehingga masyarakat iba dan melihat sosok mereka," ujarnya.
Hal ini sudah pernah terjadi pada tahun 2004, manakala SBY merasa dikucilkan di kabinet gotong royong, dan masyarakat iba melihat SBY.
"Calon harus saling serang dengan konsep dan gagasan yang akan mereka bawa ketika mereka terpilih nantinya," katanya.
Mengenai pertarungan wacana ekonomi kerakyatan dan neoliberal (neolib), masyarakat harus lebih jeli lagi. Gagasan ekonomi kerakyatan yang diusung oleh MEGA-PRO dan JK-WIN akhir-akhir ini membuat masyarakat menjadi bingung.
"Mereka hanya menyampaikan jargon, bukan program riil, kalaupun mereka menyampaikan program riil, masyarakat masih harus bertanya, bagaimana cara mereka untuk bisa merealisasikan program dengan kondisi Indonesia sekarang ini," katanya.
Mengenai pembelaan SBY-Boediono bahwa mereka tidak berfaham neolib, masyarakat pun harus lebih jeli lagi, kenapa? karena neolib sendiri multi tafsir.
"Menurut SBY-Boediono, mereka tidak menyerahkan sepenuhnya perekonomian Indonesia kepada mekanisme pasar, padahal kenyataannya esensi dari Ekonomi kerakyatan versus neolib adalah, bagaimana masyarakat dapat membangun perekonomian mereka, sehingga mereka bisa hidup sejahtera," tandasnya. (Ruli Aditio)

Friday, 29 May 2009

Peringatan May Day dirayakan para buruh di Kudus dengan sangat meriah. Peringatan kali ini diperingati pada tanggal 1 Mei 2009 di depan pendopo kabupaten kudus, atau tepatnya di alun-alun Kudus. Peringatan kali ini diikuti oleh sekitar enam ratus lebih, yang terdiri dari buruh perusahaan rokok di Kudus(Buruh Rokok Jambu Bol), elemen kemahasiswaan(PMII Kudus, LMND, BEM STAIN Kudus), LSM (PRD, YAPHI, FSBDSI) dan masyarakat Kudus. Dengan pengawalan yang sangat ketat oleh pihak kepolisian kabupaten Kudus, acara peringatan berjalan dengan sangat meriah tidak ada kericuhan yang terjadi. Pada acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, masing masing elemen melakukan orasi di atas mobil yang telah disediakan oleh FSBDSI, salah satu organisasi sarikat buruh di Kudus yang sangat konsen terhadap nasib buruh rokok di Kudus, terutama buruh rokok Jambu Bol yang telah mengalami permasalahan PHK.

Suwoko, Ketua Umum PMII Cabang Kudus sedang berorasi ditengah-tengah ratusan masa.

Acara yang digagas oleh elemen mahasiswa dan LSM ini begitu banyak menyedot perhatian masyarakat di Kudus. Acara bertambah meriah saat teter GERAK 11, salah satu Badan Otonom PMII Cabang Kudus hadir di tengah-tengah kerumunan masa dengan melakukan aksi teatrikal. Ada yang berperan sebagai bos, ada pula yang berperan sebagai buruh yang sangat menderita disimbolkan dengan beberapa pemeran yang memikul replika sebatang rokok yang sangat besar. Ratusan masa yang hadir sangat berkesan dengan penampilan mereka yang kebanyakan ibu-ibu yang sehari-hari sebagai buruh batil di perusahaan rokok.

Ratusan ibu-ibu, Mayoritas buruh rokok di Kudus

Isu yang diangkat dalam peringatan May Day kali ini adalah kesejahteraan buruh yang belum terselesaikan, buruh kontrak dan dana bagi hasil cukai (DBHCHT) yang akan diterima pemerintah kabupaten Kudus yang tahu ini akan diterima dari pemerintah pusat. Tentu proses pengawalan terhadap kesejahteraan buruh ini tidak akan pernah usai, jika pihak peusahaan dan pemerintah tidak bersama-sama mempunyai kepekaan terhadap penderitaan buruh di Kudus. Sebagai pahlawan devisa, selayaknya mereka dapat merasakan kesejahteraan atas keringatmereka sendiri.

Sunday, 10 May 2009

Penulis: M. Mustafidz, S.Fil.
Sekarang Tinggal di Sleman

Kaum muda atau generasi muda memiliki peran penting dalam sejarah negeri ini. Para sejarawan mengatakan bahwa tidak ada perubahan besat di negeri ini yang tidak melibatkan kaum muda. Bahkan, dalam banyak momentum, peran kaum muda sangat sentral. Kita dapat melihat bagaimana peran kaum muda dalam reformasi. Reformasi yang membuka krans liberalisasi politik dan demokratisasi nyaris mustahil tanpa peran kaum muda yang saat itu diperankan kalangan mahasiswa. Jika sedikit flash-back, kita dapat menyaksikan bagaimana peran kaum muda sebagai katalisator proklamasi kemerdekaan. Ben Anderson mengabadikan peran penting pemuda dalam sejarah dalam buku monumentalnya, Revolusi Pemuda.
Dengan melihat heroisme peran pemuda tersebut, menjadi penting bagaimana melakukan kontekstualisasi di tengah krisis global dan transisi demokrasi di lecel nasional. Sebagaimana mutiara hikmah mengatakan bahwa yesterday as memory, today is a gift, and tomorrow is a hope, yang terpenting saat ini adalah bagaimana memproyeksikan peran ke depan tanpa harus meninggalkan masa lalu. Tulisan ini mencoba membangun gagasan sektor yang harus digeluti kaum muda, yakni wilayah ekonomi (economic domain), sesuatu yang selama ini nyaris dilupakan. Untuk mengoptimalkan potensi ekonomi kaum muda sekaligus sebagai basis pengembangan ekonomi diperlukan keterlibatan banyak pihak.
Selama ini perhatian terhadap generasi memang sudah diberikan oleh pemerintah. Organisasi kepemudaan seperti KNPI atau orga ekstra cukup diberi ruang dan fasilitas oleh negara dalam mengembangkan kapasitas kepemimpinannya. Ini merupakan perkembangan positif terhadap masa depan bangsa. Sebab bagaimanapun masa depan bangsa ini terkait dengan kualitas kaum mudanya. Jika kapasitas kepemimpinan kaum muda cukup memadai, maka masa depan bangsa akan cerah dan prospektif. Sebaliknya, jika lemah, maka masa depan bangsa juga di ambang kehancuran. Meskipun dalam banyak hal bantuan pemerintah seringkali menciptakan dilema, yakni kaum muda terjebak koorporatisme kekuasaan yang menumpulkan kritisisme sosial.
Hanya saja ada satu hal yang dilupakan dalam pengembangan kaum muda. Yaitu mengkaitkan kaum muda dengan pembangunan ekonomi. Konsep kaum muda dalam pembangunan ekonomi memiliki dua dimensi pokok, yakni potensi ekonomi kepemudanaan itu sendiri dan positioning kaum muda sebagai basis pengembangan ekonomi. Kaum muda belum sepenuhnya menjadi stake-holder utama desain pengembangan ekonomi. Ini terlihat dari minimnya partisipasi pemuda dalam politik anggaran, politik industrialisasi, perumusan kebijakan publik, hingga pendidikan.

Posisi Strategis Kaum Muda
Penulis melihat bahwa salah satu hal penting yang harus didorong untuk memberdayakan kaum muda adalah pengembangan di sektor ekonomi. Pengembangan ekonomi kepemudaan merupakan salah satu alternatif program yang harus didorong, di samping pengembangan kapasitas leadership kaum muda. Ada beberapa alasan mengapa ini penting.
Pertama, potensi kaum muda di Kabupaten kudus yang begitu besar. Data BPS tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah pemuda usia 15-24 tahun mencapai sekitar .... jiwa. Jika batasan kaum muda diperluas, yakni mereka yang juga berusia sama dan atau di bawah 29 tahuan, maka jumlahnya menjadi sekitar ..... jiwa. Sebuah jumlah yang amat potensial untuk diberdayakan dan diaktualisasikan segenap potensi ekonominya. Bahkan jika pun mereka diposisikan dan dipandang semata sebagai pasar, potensinya sudah bisa dihitung secara matematik.
Kedua, krisis global yang berawal dari kisruh kredit perumahan di Amerika yang dikenal dengan sitilah sub-prime morgage. Krisis ini, karena sistem ekonomi dunia sudah terintegrasikan sedemikina rupa, juga memiliki dampak signifikan terhadap beberapa negara termasuk Indonesia. Konsekuensi krisis ini dapat dilihat dari fenomena PHK massal yang terjadi di berbagai sektor ekonomi. Kawasan industri Kabupaten kudus termasuk wilayah yang juga mengalami fenomena serupa. Krisis ini merupakan momentum untuk merekonstruksi pembangunan ekonomi nasional dan lokal dan meletakkan pemuda sebagai stake-holder utama.
Ketiga, adanya konteks global yang menunjukkan semakin tak terelakkannya globalisasi ekonomi. Salah satu ciri dari fenomena ini adalah meningkatnya derajat pergerakan orang dalam rangka memburu pekerjaan. Sebagian besar arus ini diisi oleh pencari kerja berusia muda. Artinya, cepat atau lambat, suka atau tidak suka, kaum muda kita akan berhadapan dengan kaum muda dari kawasan dunia lainnya dalam persaingan mencari kerja.Dalam situasi demikian, kaum muda yang terdidik, dan dibekali skill yang memadai, akan memenangkan persaingan di pasar bebas. Di sinilah dibutuhkan perhatian khusus dalam menyiapkan kaum muda di kancah ekonomi global.
Keempat, salah satu fenomena perkembangan ekonomi adalah dinamika yang luar biasa dalam sektor industri kreatif. Sebuah industri yang digerakkan oleh ide-ide kreatif atau kreativitas. Pelaku sektor ekonomi ini adalah sebagian besar kaum muda.Industri ini bergerak dalam arus budaya kaum muda yang disebut dengan popular culture. Pusaran ekonomi bidang ini nyaris tidak terbatas karena permintaannya bukan berdasarkan kebutuhan, akan tetapi hasrat mengkonsumsi (how to consume) yang secara sistematik dibentuk oleh trend global yang sedang berkembang. Ruang ini merupakan peluang diaspora bagi kaum muda yang enggan masuk sektor birokrasi.
Kelima, pengembangan ekonomi kaum muda merupakan bagian dari grand-design masa depan bangsa. Disain yang tidak menjadikan kaum muda sebagai komponen utama niscaya akan membahayakan masa depan bangsa dan menghasilkan generasi muda yang gagap di tengah dunia yang berubah begitu cepat ini. Pemerintah sudah barang tentu memiliki perencanaan ekonomi ke depan, dan setiap perencanaan selalu membutuhkan sumber daya manusia. Dalam konteks inilah diperlukan rekayasa sosial yang mampu menyedikan kebutuhan sumber daya manusia sekaligus mengisi peluang-peluang yang dibutuhkan di masa depan.

Bagaimana Mengembangkannya?
Pengembangan ekonomi berbasis kaum muda harus memperhatikan beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah potensi ekonomi lokal. Potensi ini harus dimaknai secara luas, tidak semata-mata potensi sumber daya alam yang dimiliki olehkabupaten kudus. Akan tetapi, potensi yang tercipta oleh konteks geoekonomi dan geopolitik kabupaten kudus yang menjadikannya sebagai salah satu kawasan investasi penting di masa depan. Kegagalan dalam membaca situasi ini berdampak pada pembuatan kebijakan ekonomi yang tidak kompatibel.
Dimensi kedua adalah karakteristik demografis kaum mudakabupaten kudus yang terkait dengan tingkat pendidikan, multikulturalisme, dan bangun sosiologis kaum mudakabupaten kudus yang terbentuk oleh berbagai nilai sosial yang berkembang di masyarakat. Pemahaman yang memadai mengenai karakteristik demografis kaum muda niscaya akan berimplikasi pada paradigma pendidikan, pembangunan ekonomi, dan kebijakan pelayanan publik.
Dimensi ketiga, dinamika ekonomi global dan future trends ekonomi dunia. Seperti diungkap di atas, globalisasi telah menjadikan kita hidup di desa buana (global-village). Hal ini menyebabkan trend ekonomi lokal dan nasional tidak terlepas dari dinamika dunia. Karenanya, dibutuhkan sebuah bacaan tajam tentang berbagai kemungkinan-kemungkinan strategis yang akan terjadi di masa depan. Inilah yang harus diantisipasi oleh kaum muda dan pengambil kebijakan.

Jangka Pendek-Panjang
Berbagai pemikiran di atas tentu membutuhkan implementasi dan rumusan yang lebih konkret. Secara sederhana, tulisan ini hanya akan mengupas secara selintas apa yang harus dilakukan berdasarkan kategori waktu, jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek lebih merupakan troubles-shooting, bagaimana merespons situasi ekonomi dalam jangka pendek. Dalam jangka pendek ini terkait dengan dua hal utama. Pertama, lahirnya kaum muda yang sedang mencari pekerjaan setelah lulus dari pendidikan formal, yang tidak terserap di lapangan tenaga kerja. Kedua, merumuskan skema ekonomi sosial dampak krisis global terutama terkait dengan pemutusan hubungan kerja.
Program-program pelatihan enterpreneurship, penciptaaan pembangunan padat karya, pembangunan infrastruktur publik yang menyedot banyak tenaga kerja menjadi penting dalam jangka pendek. Sudah barang tentu pendekatan struktural untuk melindungi masyarakat dalam hubungan industrial tidak kalah pentingnya.
Sementara itu dalam jangka panjang dibutuhkan pendekatan multilevel. Pertama, penguatan kapasitas pendidikan melalui pendidikan. Pendidikan dengan demikian menjadi salah satu instrumen strategis. Pengembangan pendidikan harus didasarkan oleh dua variabel yakni potensi sumber daya alam dan bangun demografis kaum mudakabupaten kudus. Universitas idealnya dikembangkan untuk menghasilkan SDM yang dibutuhkan dalam pengembangan kemaritiman dan potensi sumber daya alam seperti tourisme religius, induustrialisme, dan sektor-sektor industri turunannya, sehingga potensi sumber daya kaum muda kabupaten kudus terserap dalam dunia kerja. Dari sisi potensi dan minat kaum muda sendiri dibutuhkan pendidikan yang memfasilitasi lahirnya para pemikir besar makro-strategis, praktisi, dan juga keterampilan untuk masuk dunia kerja langsung. Dalam jangka panjang, jika pemerintah tidak serius menangani program pendidikan, kaum muda Kudus akan tetap lebih banyak menjadi penonton ketimbang aktor sejarah.
Kedua, disain kebijakan pembangunan harus di-create untuk memberdayakan kaum muda. Intervensi kekuasaan di sini dibutuhkan untuk mengarahkan arah pembangunan yang berpihak pada kaum mudakabupaten kudus. Gagasan ini bukanlah dalam rangka kebencian atau restriksi terhadap pendatang. Sepenuhnya disadari bahwakabupaten kudus merupakan kawasan terbuka yang harus tunduk pada mekanisme pasar dan kebijakan pemerintah. Namun, semata-mata bentuk responsibilitas terhadap kaum muda kabupaten kudus.
Ketiga, dalam jangka panjang dibutuhkan transformasi industri dari industri berbasis manufaktur (packaging) ke industri real baik itu yang dibutuhkan dalam konteks pemanfaatan sumber daya alam maupun posisi geostrategisnya. Gagasan ini bisa diterjemahkan dalam bentuk bagaimana mentransformasikan kaum muda dari posisi employee saat ini menjadi investor, atau minimal small-business-owner.
Keempat, pemerintah harus mendorong gerak ganda secara bersamaan. Gerak ganda yang dimaksud adalah bagaimana membuka akses terhadap pasar global di satu sisi dan mengambil langkah-langkah kebijakan untuk melindungi industri lokal dari dampak negatif kapitalisme global.Gagasan ini juga bukanlah anjuran proteksionisme terselubung yang menabrak kaidah-kaidah pasar terbuka atau zona perdagangan bebas, namun pemerintah masih dapat berbuat banyak untuk melakukan kedua hal tersebut.
Dengan langkah-langkah tersebut, dalam jangka panjang kaum muda kabupaten kudus akan menemukan elan vitalnya dan memberikan kontribusi siginifikan bagi terwujudnya masyarakatkabupaten kudus yang sejehatera, bermartabat, dan religius..